JAKARTA (UCAN) -- Para imam di Indonesia mengatakan bahwa Tahun Imam yang diluncurkan baru-baru ini merupakan sebuah kesempatan bagi mereka untuk memperoleh pengetahuan yang lebih luas guna membantu mereka dalam pelayanan pastoral.
"Tugas imam tidak hanya berhenti pada ritual-ritual tapi harus meng-umat, menjawab kebutuhan umat, dan update teologi dan ilmu lain yang berhubungan dengan pelayanan seorang imam," kata Pastor Yohanes Nikolaus Haryanto SJ, sekretaris jenderal Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).
Pastor Haryanto, yang juga mengetuai pelayanan pastoral mahasiswa di Keuskupan Agung Jakarta, mengatakan: "Jangan merasa bahwa saya sudah menyelesaikan filsafat dan teologi maka saya tidak perlu membaca atau berefleksi lagi. Kita harus ingat bahwa banyak orang awam juga sudah mulai belajar teologi."
Seraya menyebut bahwa umat paroki sering memberi hadiah kepada para imam di hari ulang tahun mereka, ia menyarankan: “Umat jangan menghadiahkan baju, tapi buku bacaan apa saja karena jaman sekarang menuntut seorang pastor untuk banyak membaca supaya ada variasi dan inovasi di setiap pelayanan kepada umat.”
Pastor Bonifasius Rampung, rektor Seminari Menengah Pius XII di Kisol, Flores bagian barat, sependapat. "Kebiasaan membaca menjadi hal yang utama. Apalagi sekarang perkembangan sarana komunikasi sangat maju. Kita harus memanfaatkannya," katanya.
Pastor Heribertus Samuel OFMCap dari Paroki St. Fransiskus Asisi di Tebet, Jakarta Selatan, mengatakan bahwa Tahun Imam adalah "sebuah kesempatan istimewa bagi kami untuk mereflesikan pelayanan kami."
Ia menceritakan bahwa sebagai seorang imam yang berkarya di Kota Jakarta, ia kadang-kadang mengalami kesalahpahaman. "Ketika saya melayani terlalu dekat dengan kelompok atau orang tertentu, (saya) dinilai pilih kasih, diskriminasi, atau affair dengan orang tertentu. Padahal ini tugas saya sebagai pastor harus melayani umat,” katanya.
Namun, ia mengatakan bahwa ia terinspirasi oleh teladan St. Yohanes Maria Vianney, santo pelindung para pastor paroki, yang melayani umat awam secara sederhana dan setia. Paus Benediktus XVI, saat mengumumkan secara resmi Tahun Imam, menulis surat khusus kepada semua imam, seraya mengutip panjang lebar kehidupan santo asal Prancis itu.
Sementara itu, Keuskupan Agung Jakarta membuka Tahun Imam dengan sebuah Misa pada 22 Juni di Katedral St. Perawan Maria Diangkat ke Surga di Jakarta. Sekitar 200 imam dan lebih dari 500 umat awam menghadiri Misa yang dipersembahkan secara konselebrasi oleh Julius Kardinal Darmaatmadja SJ dan pensiunan Uskup Fransiskus Xaverius Hadisumarta OCarm.
Dalam surat gembala tertanggal 12 Juni untuk para imam di Jakarta, kardinal mengatakan bahwa keuskupan agung telah menetapkan tema-tema khusus untuk berbagai Misa dan doa-doa khusus untuk para imam yang akan dipersembahkan selama tahun khusus tersebut.
Paus meluncurkan Tahun Imam pada 19 Juni, pesta Hati Yesus Maha Kudus.
sumber: ucanews.com
Read more...
1 Juli 2009
Para Imam Perlu Belajar Terus Menerus”
3 April 2009
Yesuit Pertama Asal Pakistan Ditahbiskan
LAHORE, Pakistan (UCAN) -- Serikat Yesus memperoleh imam pertama asal Pakistan sejak serikat itu hadir kembali di negara itu selama 48 tahun.
Pastor Imran John SJ, 33, ditahbiskan pada 28 Maret di Katedral Hati Kudus di Lahore. Uskup Agung Lahore Mgr Lawrence John Saldanha, yang memimpin upacara itu, membenarkan bahwa imam baru itu adalah “Yesuit Pakistan pertama” yang ditahbiskan. "Kami akan memiliki 20 imam lokal tahun ini,” katanya dalam kotbah.
Pastor Maria Anthony, provinsial Yesuit Sri Lanka, adalah satu dari 40 konselebran. Umat yang hadir sekitar 500 orang termasuk para suster dan pelajar.
Pastor Renato Zeechin, pemimpin komunitas Yesuit setempat, menyebut imam baru itu sebagai anugerah dari Gereja lokal bagi Serikat Yesus. “Dia dapat menjadi teladan yang baik dalam komunitas dengan mendukung kharisma Yesuit, terutama dalam pendidikan, pelajaran agama, dan dialog antaragama,” kata imam yang mengepalai dua sekolah menengah di kota itu yang mendidik sekitar 1.000 pelajar.
Para Yesuit pertama kali tiba di Lahore pada abad ke-16 ketika Akbar (1556-1605) berkuasa. Dia dipandang sebagai yang terbesar dari para emperor Mughal yang memerintah di sub-kontinen itu dari tahun 1526 hingga 1761. Dia mengundang para imam Yesuit dari koloni Portugis di Goa.
Tahun 1597, sebuah bangunan gereja besar berdiri di Lahore, dan tahun 1604, Akbar memberi sebuah pernyataan tertulis kepada para Yesuit yang mengijinkan semua bawahannya memeluk agama Kristen. Namun, kemudian para penguasa Mughal kurang bersahabat dan gereja dihancurkan tahun 1650. Misi Yesuit lenyap dari wilayah yang kini dikenal dengan Pakistan itu hingga tahun 1961, ketika para Yesuit Jerman datang ke Lahore dan membangun Loyola Hall, sebuah rumah pembinaan dan retret dengan sebuah perpustakaan besar.
Walaupun Serikat Yesus merupakan serikat terbesar para imam dan bruder di dunia, Pakistan hanya memiliki tiga imam Yesuit termasuk Pastor John, dengan tiga kandidat dalam pembinaan.
"Mempersiapkan orang muda merupakan sebuah tantangan. Kebanyakan dari mereka akan pergi setelah mengenyam pendidikan tinggi dan pendidikan di luar negeri,” jelas Pastor Zeechin, yang mengatakan bahwa enam kandidat pergi setelah bergabung dengan Serikat Yesus selama sembilan tahun.
Pastor John adalah salah satu anggota kelompok kandidat Yesuit pertama itu yang menjalani pendidikan, dimulai tahun 1995. "Kami ada 15 orang. Kehidupan doa yang kuat dan kekuatan kehendak itulah yang membaharu saya untuk bertahan dalam program pendidikan yang panjang," katanya. Yang lainnya berjumlah 14 orang akhirnya meninggalkan pembinaan.
Imam yang baru ditahbiskan itu ingin memberi kontribusi positif bagi perjuangan Gereja di bidang kerukunan antaragama. "Membangun hubungan secara sosial, bukan dalam bidang agama, itu penting bagi sebuah masyarakat yang sehat, terutama di tengah ekstrimisme yang tengah berkembang," katanya.
2009-4-1 | PA06949.636b | 408 kata
Read more...