Tampilkan postingan dengan label muspas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muspas. Tampilkan semua postingan

15 Agustus 2010

Dari Diskusi, Tiga Masalah Pokok

Ruang-ruang diskusi sangat dinamis

Oleh Frans Obon


ENDE (FLORES POS) -- Diskusi-diskusi kelompok dalam Musyawarah Pastoral (Muspas) VI kali ini sangat dinamis. Tampak sekali para peserta bersemangat membahas berbagai isu strategis yang masih mengganjal dan yang menyebabkan tidak optimalnya peranan komunitas basis sebagai komunitas pemberdayaan dan perjuangan.

Uskup Agung Ende Vincent Sensi Potokota sedang bicara dalam diskusi kelompok.

Dari lima pokok bahan diskusi yakni komunitas umat basis, fungsionaris pastoral, kerasulan di tengah tata dunia, sumber daya pastoral dan kelompok-kelompok strategis, ditemukan tiga masalah pokok yang cukup menonjol.

Dari masalah-masalah yang ada, para peserta berusaha mencari dan menggali “apa pesan Allah di dalamnya dan apa yang harus dilakukan ke depan”.Tiga masalah yang menonjol itu adalah pertama, Kitab Suci belum menjadi roh yang menggerakkan komunitas-komunitas basis. Kedua, kesadaran dan pengetahuan tentang komunitas basis masih rendah, dan ketiga pemahaman komunitas basis sebagai komunitas perjuangan di mana dalam komunitas basis itu orang menemukan pembebasan dan pemberdayaan masih belum tampak.

Peserta menilai, fungsionaris pastoral di komunitas umat basis belum memiliki keterampilan yang memadai. Demikian juga kerasulan gereja di tengah tata dunia, diskusi menyebutkan bahwa gereja belum sungguh merasul dalam tata dunia khususnya dalam bidang politik, ekonomi dan lingkungan hidup. Gereja belum terlibat penuh di dalam menentukan keputusan-keputusan publik.

Mengenai sumber daya pastoral, gereja memiliki sumber daya pastoral yang memadai tapi sumber daya pastoral ini belum digunakan secara optimal untuk kemajuan dan perkembangan gereja.

Peserta diskusi sadar bahwa orang muda Katolik (OMK) merupakan kelompok-kelompok strategis dan tulang punggung gereja. Namun diakui, perhatian dan pendampingan kelompok-kelompok strategis ini belum mendapat porsi yang seharusnya.

Persoalan-persoalan dasar ini akan terus digeluti dalam beberapa hari ke depan untuk menemukan arah dasar dan strategi pastoral yang tepat. Peserta diminta menemukan jalan keluar bersama.

Meski ada perbedaan pendapat dan diskusi yang dinamis, namun para peserta menegaskan lagi betapa penting menjadikan Kitab Suci sebagai inspirasi bagi seluruh karya gereja. Kitab suci menjadi dasar bagi keterlibatan gereja dalam berbagai bidang kehidupan.*

Read more...

Ada Perubahan Besar pada KUB

ENDE (FLORES POS) -- Komunitas umat basis sudah banyak mengalami perubahan dan hal itu bukan saja karena usaha kita, tetapi juga karya Roh Kudus, kata Romo Feri Deidhae Pr, Direktur Pengembangan dan Penelitian Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Agung Ende, Kamis (8/7). Dia mengatakan demikian karena dengan dana yang terbatas dan sumber daya fungsionaris pastoral serta jumlah personel yang juga terbatas, komunitas umat basis mengalami perubahan yang begitu besar.

Karena Muspas sebagai ajang evaluasi dan penyusunan perencanaan arah dasar dan strategi pastoral Keuskupan Agung Ende lima tahun ke depan, maka Puspas sebagai lembaga perencanaan reksa pastoral keuskupan melakukan penelitian dan survei.

Tiga instrumen dipakai untuk membedah situasi pastoral Keuskupan Agung Ende yakni pertama, katekese umat yang dilakukan oleh Tim Komisi Kateketik (Komkat). Hasilnya dipresentasikan oleh Ketua Komkat Herman Tambuk pada hari pertama Muspas. Kedua, survei yang dilakukan oleh Romo Feri Deidhae, dan self assessment yang meliputi aspek kerasulan gereja dalam tata dunia (tim Romo Domi Nong Pr, Romo Sipri Sadipun Pr, dan Romo Adolf), aspek arah dasar dan implementasi Muspas (tim Romo Alex Tabe Pr dan Romo Remigius Misa Pr), dan aspek sumber daya, tenaga (personel), sarana dan prasarana (tim Romo Cyrilus Lena Pr, Romo Herman Wetu Pr, Romo Yet Koten Pr, dan Romo Efraim Pea Pr).

Hasil penelitian dan survei yang dipresentasikan pada hari pertama Muspas, katanya, adalah alat untuk menggambarkan situasi riil umat agar kita dapat mengerti dengan mudah dan jelas. Survei tersebut bukan tawaran solusi.

Data-data itu jelas memperlihatkan bahwa komunitas umat basis bukanlah hanya sebuah komunitas doa dan yang merayakan ekaristi, tapi sebuah komunitas yang punya kepedulian terhadap masalah-masalah konkret seperti kesehatan, kemiskinan dan masalah sosial lainnya. Komunitas basis harus bisa menggerakkan semua anggotanya untuk bertanggung jawab secara sosial. Dia harus peduli dengan nasib orang lain yang disebut sentimen sosial. “Karena itulah maka komunitas basis itu disebut komunitas perjuangan. Karena anggotanya berjuang bersama-sama untuk memecahkan masalah sosial, semisal kemiskinan, kesehatan dan lain-lain”.

Secara umum, lanjutnya, yang menjadi kendala adalah masih belum maksimalnya kemampuan fungsionaris pastoral di komunitas basis. Data menunjukkan bahwa sebagian besar pengurus komunitas basis (33%) berpendidikan sekolah dasar. Kemampuan mengelola komunitas masih kurang. “Kita harus realistis karena mayoritas masyarakat kita juga tamat sekolah dasar”.

Dia juga bilang, banyak yang menilai fungsionaris pastoral belum sesuai harapan. Hal ini bisa dimengerti kalau terjadi konflik di komunitas basis, orang tidak pergi komunitas basis tapi ke tokoh masyarakat atau pemerintah. Memang banyak keluhan juga bahwa banyak orang tidak mau jadi pengurus komunitas basis. “Mungkin saja karena tidak ada gajinya, orang tidak mau repot dengan urusan agama dan karena sibuk dengan pekerjaannya sendiri”.

“Karena beda sekali, misalnya di kampung, orang rebut jadi ketua RT atau rebut jadi kepala desa. Mungkin karena ada uangnya. Sementara komunitas basis ini hanya mengandalkan sukarela”.

Mengatasi masalah ini, ke depannya kita akan melakukan pendampingan yang berkelanjutan terhadap fungsionaris pastoral. “Muspas ini akan membicarakan apa yang mau dibuat untuk meningkatkan kemampuan fungsionaris pastoral komunitas basis”.

Sudah bagus bahwa ada semangat doa dan merayakan ekaristi di dalam komunitas basis kita, tapi “jangan sampai sifatnya hanya spiritualistis semata” karena “iman tanpa perbuatan adalah mati”. “Kita jangan lupa bahwa spiritualitas kita harus berbuah dalam pelayanan”.*

Read more...

Aspek Kerygma Perlu Ditingkatkan

Perlu Menimba Inspirasi dari Kitab Suci

Oleh Frans Obon

ENDE (FLORES POS) -- Dari hasil olahan tim Komisi Kateketik (Komkat) Keuskupan Agung Ende yang dipresentasikan pada hari pertama terlihat bahwa dinamika kehidupan komunitas umat basis mulai bagus, namun aspek kerygma (pewartaan) yang diinspirasi oleh Kitab Suci masih perlu ditingkatkan dan didorong terus menerus, kata Ketua Komkat Herman Tambuk, Kamis (8/7) kemarin di aula Paroki Mautapaga.

Respon umat di komunitas basis terhadap bahan-bahan katekese cukup bagus. Bahan-bahan katekese tersebut membicarakan evaluasi keadaan komunitas basis sehingga peserta mendapat gambaran terkini. Aspek kedua adalah peran fungsionaris pastoral dalam kehidupan komunitas basis, dan aspek ketiga adalah peran umat sebagai subjek pastoral.

Dari proses ini, tampak sekali bahwa dalam komunitas basis kita ada kebersamaan yang cukup baik dan harmonis. Doa dan merayakan ekaristi bersama cukup baik dan ada semangat solidaritas dan pelayanan diakonia yang cukup bagus.

“Yang kurang yang perlu ditingkatkan dan perlu mendapat perhatian adalah aspek kerygma (pewartaan). Dari survei dan dari sesi diskusi pada presentasi hasil penelitian kita mendapat input bahwa Kitab Suci belum menjadi jantung kehidupan”.

“Umat kita hanya mendalami Kitab Suci pada bulan September”. Ini berarti, katanya, penggunaan Kitab Suci dalam komunitas basis masih kurang.

Kecemasan yang muncul dari peserta bahwa mereka takut salah menafsirkan kitab suci karena wewenang itu ada pada magisterium, namun yang harus didorong adalah “bagaimana hidup kita dilihat dalam terang kitab suci”. Intervensi yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah “kita berusaha mengumpulkan teks-teks, perikop-perikop kitab suci yang berkaitan dengan kehidupan komunitas basis, teks-teks tersebut itu dibagikan kepada umat untuk dipakai pada waktu doa mingguan”.
Agar komunitas basis itu sungguh menjadi sebuah organisme yang hidup, perlu ada pendampingan berkelanjutan, katanya.

Wakil Ketua DPRD Nagekeo Thomas Tiba Owa mengatakan, untuk memberdayakan komunitas basis diperlukan keterlibatan semua pihak. Banyak orang enggan menjadi pengurus komunitas basis karena gensi dan menghindar dari tanggung jawab.

“Semua kita adalah umat Allah dan kita perlu mengambil bagian dalam tugas bersama tersebut,” katanya.*



Read more...

10 Agustus 2010

Kaum Muda Mendapat Perhatian Muspas

Kaum Muda Perlu Mendapat Perhatian Gereja

Oleh Frans Obon

ENDE (FLORES POS) -- Reksa pastoral untuk orang muda Katolik (OMK) cukup mendapat perhatian peserta terutama dari kelompok kaum muda dalam sesi diskusi setelah presentasi tim Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Agung Ende pada hari kedua Muspas VI, Rabu (7/7) di aula Paroki Mautapaga.

Direktur Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Puspas Keuskupan Agung Ende Romo Feri Deidhae Pr dalam presentasi hasil survei menyebutkan bahwa keterlibatan kaum muda di dalam kehidupan komunitas umat basis masih belum maksimal.

Hal ini disebabkan salah satunya, paling tidak dari survei yang dilakukan, jumlah orang muda (berusia 15-45 tahun dan belum menikah) di cukup banyak komunitas umat basis sangat kurang, rata-rata 7 persen dan di beberapa paroki hampir nol persen.

“Fenomena ini memproyeksikan masa depan gereja hanya mengandalkan orang tua dan anak-anak. Selain itu masyarakat Keuskupan Agung Ende akan mengalami kekurangan tenaga kerja serta kaum intelektual (brain drain). Data ini diperkuat dengan jumlah usia non produktif yang cukup tinggi sebesar 42,65 persen,” kata tim survei.

Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota dalam sambutan pembukaan Muspas, Selasa (6/7) malam di Paroki Mautapaga juga menyinggung masalah serupa bahwa banyak tenaga-tenaga produktif dari keuskupan ini meninggalkan desa atau tempat kelahiran mereka untuk bekerja di luar Flores. Migrasi tenaga kerja ke luar Flores seperti ini tentu membawa persoalan tersendiri. Bahkan ketika mereka kembali ke Flores.

Marlyn, seorang peserta dari kelompok kaum muda dalam sesi diskusi mengatakan, dia berterima kasih karena tim mengangkat masalah kaum muda. Karena itu dia minta Muspas merencanakan pastoral kaum muda karena “kaum muda adalah masa depan gereja”.

Veronika yang akrab disapa Veny, juga peserta dari kelompok kaum muda mengatakan, telah banyak terjadi krisis iman dan moral di kalangan kaum muda. Dia berharap pada Muspas kali ini peserta mengkritisi situasi dan problem kaum muda dan merencanakan strategi pastoral yang memperkuat komitmen kaum muda dalam kehidupan menggereja.

Menurut dia, pekan mudika yang digelar tiga tahun sekali tidaklah cukup untuk membina kaum muda. Dia minta kaum muda diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan “untuk membina sumber daya kaum muda yakni pembinaan yang sesuai dengan jiwa dan semangat orang muda”.

Yasinta dari OMK Kevikepan Bajawa juga setuju bahwa kegiatan Tri Hari Mudika tidak cukup untuk mengumpulkan dan membina kaum muda, sebab “banyak sekali terjadi perubahan-perubahan situasi saat ini”. Tiga hari kegiatan Mudika itu menyedot banyak biaya dan tenaga. “Memang ada kontribusi bagi masyarakat di tempat kegiatan berupa kegiatan fisik,” namun menurut dia, “pembinaan mental kaum muda perlu dilakukan secara periodik dan terencana”.*


Read more...

Muspas Harus Hasilkan Dokumen Perencanaan Terukur

ENDE -- MUSYAWARAH Pastoral (Muspas) VI sebagai kesempatan evaluasi, menyusun arah dasar dan strategi pastoral Keuskupan Agung Ende lima tahun ke depan hendaknya menghasilkan dokumen perencanaan yang hasilnya dapat terukur.

Ketua Umum Panitia Muspas VI dokter Dominikus M Mere, Selasa (6/7) di aula pertemuan Muspas mengatakan, apa yang ingin dicapai dari pertemuan ini adalah adanya strategi dan program kerja lima tahun yang punya tolok ukur dan indikator yang jelas sehingga nanti pada Muspas VII dapat dievalusi dan terukur pula pencapaiannya. “Sebab Muspas sama dengan rencana jangka panjang menengah (RPJM),” katanya.

Untuk dapat menghasilkan dokumen dan program kerja yang demikian, dia berharap seluruh peserta tetap terfokus pada kerangka acuan (term of reference) yang dibuat panitia. “Kita tidak boleh keluar dari kerangka acuan tersebut”.

Menurut dia, jika pembahasan dalam Muspas keluar dari kerangka acuan yang diberikan, “kita tidak akan menghasilkan dokumen perencanaan yang baik. Akibatnya perencanaan kita tidak terukur dan kita akan terus berada dalam proses. Sebab itu kita butuh indikator yang jelas”.

Read more...

Kehidupan Komunitas Umat Basis Makin Maju

*Banyak Masalah Akan Digeluti dalam Diskusi

Oleh Frans Obon

ENDE (FLORES POS) -- Kehidupan komunitas umat basis di Keuskupan Agung Ende yang tersebar di 56 paroki (Ende 25 paroki dan Bajawa 31 paroki) dengan jumlah komunitas umat basis 4.531 (Ende 1.929 KUB dan Bajawa 2.602 KUB) sudah makin maju.

Hal itu bisa dilihat dari survei yang dilakukan tim Pusat Pastoral (Puspas) yang dilakukan selama setahun dalam rangka Musyawarah Pastoral (Muspas) VI Keuskupan Agung Ende.



Direktur Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Puspas Romo Feri Deidhae Pr bersama tim mempresentasikan hasil penelitian mereka di hadapan hampir 400-an peserta Muspas yang memadati aula Paroki Mautapaga, Rabu (7/7). Herman Tambuk, Romo Feri Dheidae Pr, Romo Aleks Tabe Pr, Romo Yet Koten Pr, Romo Remigius Misa Pr dengan moderator Romo Stef Wolo Itu Pr, mempresentasikan hasil survei mereka.

“Secara umum dapat dikatakan KUB mengalami perkembangan maju. Perkembangan ini mungkin dipengaruhi oleh upaya-upaya pembenahan yang dilakukan selama lima tahun dan pemekaran komunitas umat basis serta peningkatan frekuensi serta jenis kegiatan,” kata tim.

Namun kemajuan ini tidak disertai dengan potensi pengurus KUB yang menurut survei ini “agak buram” karena indeksnya 2,93 ( di bawah titik tengah). “Hal ini dipengaruhi oleh pendidikan pengurus KUB yang mayoritas sekolah dasar (33,1%) dan sekolah lanjutan pertama (18,6%), pengurus belum mengikuti pelatihan (47,98%), kemampuan pengurus yang terbatas dalam menangani masalah di KUB dan pelaksanaan tugas yang dirasa belum sesuai harapan”.

Komunitas basis sebagai komunitas doa telah mengalami kemajuan, tetapi aspek kerygma (pewartaan) secara khusus pendalaman kitab suci belum maksimal. “Kebanyakan KUB mendalami kitab suci hanya pada bulan September”. Menariknya bahwa komunitas basis sebagai komunitas perjuangan sudah mulai tampak dalam pertemuan untuk membahas masalah bersama di KUB, namun “tidak tuntas sampai menemukan solusi”.

Solidaritas yang dibangun dalam KUB juga mulai tampak terutama solidaritas kematian, kebiasan tolong menolong. Ada warna persaudaraan dalam KUB. Partisipasi umat dalam kehidupan komunitas basis juga tinggi seperti partisipasi dalam kegiatan rohani, partisipasi dalam kegiatan sosial (89,51%) dan partisipasi umat dalam pengumpulan dana (88,27%).

Rendahnya kinerja pengurus KUB, dari survei diketahui, disebabkan kurangnya pendampingan. Dari survei KUB diketahui cukup banyak fungsionaris KUB (47,98%) belum pernah mengikuti pelatihan, meskipun banyak umat yang menilai bahwa pengurus KUB yang pernah mengikuti pelatihan semakin baik dalam kinerjanya jika dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya (67,8%).

Selain kemajuan-kemajuan ini, juga masih ditemukan masalah-masalah seperti kemiskinan, kesehatan, lingkungan hidup, migrasi ilegal. “Ciri KUB sebagai komunitas basis perjuangan mesti diwujudkan dalam keterlibatan dan kompetensinya menangani masalah-masalah yang dihadapi anggotanya”.

Banyak kemajuan yang telah dicapai tapi masih banyak pula persoalan baik internal maupun eksternal Gereja Keuskupan Agung Ende yang harus disikapi komunitas basis. Mulai Rabu (7/7) kemarin, peserta Muspas terlibat aktif dalam diskusi-diskusi yang intens untuk menyikapi masalah-masalah pastoral gereja Keuskupan Agung Ende dan menyusun arah dasar dan strategi pastoral lima tahun ke depan.*



Read more...

Tanda-Tanda Kedewasaan Iman Sudah Muncul

Oleh Frans Obon

ENDE -- SOSIOLOG, yang juga dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Pater Robert Mirsel SVD menilai, dari presentasi hasil survei yang dilakukan tim pastoral Keuskupan Agung Ende, sudah ada tanda-tanda yang mencerminkan dan merefleksikan bahwa iman umat makin dewasa.

Usai presentasi hasil survei tim pastoral Keuskupan Agung Ende, Rabu (7/7/2010) di aula Paroki Mautapaga, dia mengatakan, komunitas-komunitas basis di Keuskupan Agung Ende tidak lagi melihat agama sebagai “hal dari luar” melainkan “sudah menjadi bagian integral” dari kehidupan umat.

“Dalam kehidupan sehari-hari kita lihat agama tidak lagi menjadi sesuatu yang sekunder atau tempelan melainkan bagian integral dari kehidupan harian umat, meski dari hasil survei menyebutkan bahwa doa dan urusan administratif di komunitas umat basis mendapat persentase tinggi dibandingkan merefleksikan kitab suci”.

Dia bilang, dari survei kelihatan bahwa agama tidak lagi sekadar ritual namun sudah makin mencerminkan wajah gereja yang cukup dewasa dalam hal iman.

Menurut dia, presentasi data-data survei ini hendaknya menjadi “satu momen penyadaran supaya jangan hanya dimengerti secara intelektual tapi membangkitkan sense of belongings, rasa memiliki bahwa inilah masalah yang kita hadapi dan kita membangun komitmen bersama untuk mengatasinya”.

Masalah-masalah klasik yang kita sering hadapi seperti yang disebutkan dalam survei yakni kemiskinan, masalah kaum muda, dan kawin pintas, misalnya, tidak perlu bertanya siapa yang paling yang bertanggung jawab apakah komunitas basis atau fungsionaris pastoral. “Sebaliknya Muspas ini harus menjadi momen metanoia kolektif dan pribadi untuk melihat berbagai kemajuan dan mengusahakan yang belum maksimal”.

Secara metodologis survei sudah bagus. Menariknya, katanya, dalam Muspas ini fungsionaris pastoral dinilai oleh umat dan fungsionaris pastoral menilai dirinya sendiri (self assessment).*


Read more...

Uskup Agung Membuka Muspas VI

*Kemiskinan Masih Menjadi Masalah

Oleh Frans Obon

ENDE (FLORES POS) -- Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota membuka Musyawarah Pastoral (Muspas) VI Keuskupan Agung Ende dalam sebuah perayaan ekaristi di Paroki Mautapaga, Selasa (6/7/2010) sore.

Hadir dalam perayaan ekaristi pembukaan Muspas VI ini Vikjen Keuskupan Agung Ende Pater Yosef Seran SVD, Provinsial SVD Ende Pater Konrad Kebung Beoang SVD, Vikep Ende Romo Ambros Nanga Pr dan Vikep Bajawa Romo Hengky Sareng Pr, Direktur Puspas Romo Cyrilus Lena Pr.

Dari pemerintah hadir Bupati Ende Don Bosco M Wangge, Sekda Ngada Moses Meda, Ketua DPRD Ngada Kristoforus Loko, Ketua DPRD Nagekeo Gaspar Batu Bata dan ketua DPRD Ende Marsel Petu.

Persiapan Muspas VI berlangsung selama setahun sejak pencanangannya oleh Uskup Sensi pada tanggal 16 Agustus 2009 di Gereja Katedral Ende. Tema perayaan ekaristi “Demikian Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21).

Uskup Agung ini dalam kotbah ekaristi pembukaan mengatakan, Muspas bukanlah hal baru karena “Kita sudah menyelenggarakan Muspas untuk kesekian kalinya”. Namun Uskup Sensi mengatakan, Muspas harus bisa mengakomodasi dan menerima aspirasi dari umat.

Uskup mengajak peserta Muspas untuk menyandarkan diri pada kekuatan Allah untuk membahas dan merancang perencanaan pastoral keuskupan lima tahun ke depan. “Karena Pastoral Gereja adalah karya kasih Allah”. “Kita merefleksikan pastoral kita di masa lalu dan bersama-sama dalam Muspas merefleksikan apa maunya Tuhan”.

Dia minta agar peserta dalam pergumulannya selama Muspas sungguh mendengar Roh Allah sendiri, sebab Roh Allah berembus ke mana dia mau.

Dalam sambutannya Uskup Agung ini tidak menampik berbagai kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam kehidupan komunitas basis seperti adanya partisipasi aktif dari para fungsionaris pastoral dan umat beriman. “Saya bangga dengan kemajuan ini”.
“Sudah banyak komunitas umat basis dan paroki yang makin kuat dan mandiri. Tidak kurang juga umat berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab dalam kehidupan menggereja. Mereka begitu bersemangat. Malah ada DPP awam jauh lebih keras dari para imam”.

Namun Uskup mengingatkan bahwa masih banyak umat Katolik di Keuskupan Agung Ende dililit kemiskinan. Masalah ini merupakan pekerjaan rumah pastoral yang masih perlu dikerjakan.

“Masih banyak rencana aksi yang belum cukup digerakkan untuk membuat perubahan dan kita belum mampu mengentas kemiskinan yang dialami mayoritas umat,” katanya.

Gereja, katanya, sudah melakukan kampanye hidup hemat dan menabung. Bahkan Keuskupan mendirikan credit union Gerbang Kasih. Gereja Katolik, kata Uskup, mengambil bagian dalam prakarsa pangan lokal untuk menghindari umat dari kelaparan. Bahkan para uskup se-Nusa Tenggara mengikarkan pastoral yang peduli petani.

Uskup merasa cemas dengan makin banyaknya generasi muda yang tidak terserap oleh lapangan kerja sehingga harus meninggalkan tempat kelahirannya mencari kerja di luar Flores.

Selain itu, gereja Keuskupan Agung Ende berhadapan dengan masalah hak asasi manusia, politik, dan lingkungan hidup. “Muspas juga akan diisi oleh permenungan tentang masalah-masalah klasik yang dihadapai oleh umat dan kita dipanggil untuk menjawabi situasi tersebut sehingga Gereja menjadi tanda keselamatan bagi semua orang”.

Umat sebagai Subjek
Uskup menegaskan lagi bahwa umat tidak hanya dan tidak lagi menjadi fokus dari karya pastoral Gereja tetapi menjadi subjek pastoral. Hal ini dimungkinkan oleh Roh Tuhan karena Roh Tuhan bertiup ke mana saja dia mau. Karena itu Gereja perlu mendengar suara dari umat sederhana karena suara mereka merupakan percikan Roh Allah, sehingga Muspas harus menjadi ruang bagi Roh Allah untuk berbisik.

“Konkretnya perlu ada keterbukaan dan lapang hati untuk saling mendengarkan. Kita belajar duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi”.

Sedangkan Bupati Ende Don Bosco M Wangge dalam sambutannya mengatakan, pemerintah dan Gereja mengemban tugas yang sama yakni mensejahterakan rakyat, meski berbeda bidang kerja. Dia bilang, Muspas punya makna strategis terutama dalam kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan UU No. 32/2004 mengenai asas desentralisasi, yang berbasiskan akar rumput dengan semangat kemandirian.

Bupati mengajak Gereja Katolik untuk terus membangun kerja sama terutama di bidang pertanian dan secara bersama-sama mendorong gerakan swasembada pangan terutama pangan lokal.

Bupati mengatakan pemerintah menerima berbagai kritikan dan saran berkaitan dengan kebijakan pemerintah kalau hal itu muncul di dalam Muspas.

Bupati berterima kasih atas kontribusi yang diberikan oleh Gereja dalam membangun masyarakat dan dia berharap kerja sama ini terus ditingkatkan ke depan. “Kita tidak dapat menyangkal peran Gereja dalam membangun manusia seutuhnya.

Ketua umum panitia Domi M Mere dalam laporannya mengatakan, persiapan Muspas berlangsung selama setahun. Selama setahun itu pula panitia bekerja.

Para peserta menginap di rumah-rumah umat untuk mempererat kebersamaan dalam keluarga sebagai unit terkecil dari komunitas basis.*

Read more...