3 April 2009

Gereja di Wilayah Penyanderaan Berencana Tetap Melakukan Kegiatan Pekan Suci

MANILA (UCAN) -- Kevikepan Jolo di Filipina bagian selatan berencana tetap mengadakan berbagai kegiatan Pekan Suci meski keadaan darurat diberlakukan di Propinsi Sulu itu karena adanya penyanderaan.

Pada 1 April Uskup Angelito Lampon mengatakan kepada Radyo Veritas yang dikelola Gereja bahwa kevikepannya akan mengadakan berbagai kegiatan di bawah pengamanan tentara, seperti biasa, namun dengan "sejumlah penyesuaian" untuk mematuhi aturan keadaan emergensi yang diberlakukan pada hari sebelumnya.

Gubernur Abdusakur Tan dari Sulu mendeklarasikan keadaan darurat pada 31 Maret, beberapa menit setelah pukul 2.00 petang, deadline yang ditetapkan kelompok ekstrimis Abu Sayyaf bagi pasukan pemerintah untuk meninggalkan lima kota di Sulu. Kelompok itu mengancam akan memenggal kepala satu dari tiga orang yang disanderanya jika tuntutan itu tidak dipenuhi.

Masih belum ada laporan tentang eksekusi itu, namun hingga 2 April petang, ketua Palang Merah Nasional Senator Richard Gordon mengatakan organisasimya belum menerima bukti bahwa para sandera masih hidup. Ketiga sandera itu adalah seorang perempuan dan dua pria, pekerja dari Komisi Palang Merah Internasional.

Abu Sayyaf menyandera pekerja asal Italia, Filipina, dan Swiss itu sejak 15 Januari. Gordon mengatakan mereka berada di wilayah hutan Indanan.

Uskup Lampon mengatakan pukul 9.00 malam hingga 4.00 subuh diberlakukan jaga malam di Jolo, ibukota Sulu. "Ada sejumlah pos pemeriksaan sekitar tempat kami," dan pasukan keamanan "memeriksa kelompok-kelompok bersenjata."

Namun, ia menjelaskan, kehidupan Gereja di sana dalam keadaan “normal.”

Kevikepan itu telah berkoordinasi dengan Polisi Nasional Filipina dan militer untuk keamanan dalam perayaan-perayaan mendatang, katanya. Sebuah tim dengan sedikitnya empat tentara bergantian menjaga Katedral Maria Bunda Karmel.

“Sedapat mungkin, kami akan mengadakan berbagai kegiatan pada siang hari,” kata uskup itu. Namun, bila perayaan memang harus diadakan pada waktu lain, seperti Malam Paskah, yang diselenggarakan pada malam hari menjelang Minggu Paskah, maka ”kami meminta bantuan keamanan.”

Uskup itu mengakui bahwa umat yang menghadiri Misa bisa saja berkurang dari biasa, sambil mengatakan bahwa itu bisa dipahami jika umat tidak ke gereja pada tirakatan Malam Paskah “karena situasi yang menegangkan ini.”

Ia menambahkan bahwa penyiaran ibadat keagamaan melalui stasiun-stasiun radio yang dikelola Gereja bisa saja dilakukan. Di kevikepan itu terdapat sejumlah stasiun radio AM di Jolo dan Bongao, di Propinsi Tawi-Tawi yang bertetangga.

Kevikepan itu meliputi dua propinsi yang mayoritas penduduknya Muslim, dan umat Katolik hanya dua persen dari 1,1 juta total penduduk.

Keputusan diberlakukan keadaan darurat itu dibuat dalam dewan perdamaian daerah Sulu. Dewan itu juga memutuskan untuk mengijinkan pihak keamanan menggeledah rumah-rumah yang “diduga ada gerakan yang dicurigai,” dengan membawa surat perintah resmi.

Sejumlah masyarakat prihatin bahwa militer akan menyalahgunakan kekuasaannya pada keadaan darurat itu, sementara yang lain melihat bahwa langkah itu merupakan cara yang bisa mengakhiri krisis penyanderaan itu.

Sekretaris Daerah Ronaldo Puno mengatakan dalam sebuah acara televisi pada 1 April bahwa faksi-faksi Abu Sayyaf menurut laporan tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan pada para sandera itu. Dia mengatakan bahwa beberapa pemimpin kelompok bahkan prihatin dengan pernyataan yang dikeluarkan ulama yang mengatakan pemenggalan kepala itu bertentangan dengan Islam.

Dalam wawancaranya dengan Radyo Veritas, Uskup Lampon mengatakan bahwa para imam bisa pergi merayakan Misa di wilayah-wilayah kubu Abu Sayyaf berada jika mereka dilindungi oleh Marinir. Mereka juga bisa pergi bersama kelompok-kelompok Palang Merah, yang dikawal tentara, untuk melayani kebutuhan umat Katolik, tambahnya.

Prelatus itu mengatakan warga desa di wilayah-wilayah Abu Sayyaf disarankan pergi lebih dekat ke pusat-pusat kota atau sekolah-sekolah di daerah pinggiran untuk menghindari penangkapan dalam operasi militer.

Ia menekankan bahwa doa, bukan senjata, akan "mengubah hati" orang, termasuk para anggota Abu Sayyaf.
2009-4-2 | PM06977.636b | 563 kata
Read more...

Komisi Gereja Cina Adakan Pertemuan Kedua di Vatikan

Oleh Gerard O’Connell, Koresponden Khusus di Roma

ROMA (UCAN) -- Vatikan mengumumkan bahwa Komisi untuk Gereja Katolik di Cina yang dibentuk Vatikan mengadakan pleno keduanya pada 30 Maret hingga 1 April.

Sebuah pernyataan Vatikan mengatakan, komisi itu bertemu untuk meninjau kembali "sejumlah aspek tentang kehidupan Gereja" dalam terang surat Paus Benediktus XVI tahun 2007 kepada umat Katolik Cina dan "khususnya untuk merefleksikan persoalan-persoalan keagamaan yang penting saat ini.”

Surat itu mengakui berbagai kesulitan dengan diri mereka sendiri dan dengan pemerintah yang dihadapi umat Katolik Cina, ketika mendorong adanya rekonsiliasi antara komunitas Gereja “bawah tanah” dan komunitas Gereja “terbuka” yang diakui pemerintah. Surat itu juga menekankan bahwa “prinsip-prinsip independen dan otonomi, pengaturan diri sendiri dan administrasi yang demokratis dari Gereja,” seperti yang terlihat di Cina, tidak sesuai dengan ajaran Katolik.

Kantor Pers Takhta Suci mengeluarkan pernyataannya tentang pertemuan itu kepada media internasional pada 28 Maret. Radio Vatikan dan harian Vatikan, "L'Osservatore Romano," juga mempublikasikan berita itu.

Pernyataan itu tidak menyebut aspek-aspek apa saja dari kehidupan Gereja yang akan ditinjau kembali, juga tidak menyatakan pertanyaan-pertanyaan keagamaan apa saja yang akan dibahas. Namun, sumber-sumber diplomatik dan sumber-sumber lain di Roma berharap bahwa komisi itu memberikan perhatian serius pada dua masalah terkait dengan kebebasan agama dan pelaksanaan surat Paus tahun 2007 itu.

Isu pertama berkaitan dengan tanggal 19 Desember 2008, peringatan 50 tahun di Beijing tentang "pemilihan sendiri dan penahbisan sendiri para uskup." Takhta Suci tidak mengakui hal itu namun tidak memprotesnya secara publik.

Isu kedua adalah keprihatinan bahwa para uskup yang diakui Vatikan dalam komunitas Gereja terbuka bisa dibujuk atau dipaksa untuk ikut memilih pemimpin Asosiasi Patriotik Katolik Cina yang diakui pemerintah dan Konferensi Waligereja Cina. Ini akan dilakukan dalam pertengahan kedua tahun ini, ketika berlangsung Kongres Nasional Representasi-Representasi Katolik mendatang.

Keterlibatan para uskup yang diakui Vatikan dalam peristiwa-peristiwa akan menimbulkan banyak pertanyaan serius dalam terang surat paus itu, kata para sumber.

Paus Benediktus membentuk Komisi untuk Gereja Katolik Cina itu pada tahun 2007 untuk mempelajari pertanyaan-pertanyaan penting terkait dengan Gereja di sana.

Pernyataan Vatikan mengatakan, para pejabat dari kantor-kantor Kuria Roma yang “kompeten” dalam masalah ini akan ikut dalam sidang tiga hari itu, bersama dengan “sejumlah wakil dari keuskupan-keuskupan dan dari berbagai tarekat religius di Cina.”

Sementara Vatikan tidak menyebutkan nama peserta, berbagai sumber mengatakan bahwa komposisi peserta kurang lebih sama seperti pertemuan komisi itu sebelumnya pada Maret 2008.

Sekretaris negara Vatikan, Tarcisio Kardinal Bertone, akan memimpin sidang yang dihadiri oleh lebih dari 30 orang itu, termasuk William Kardinal Levada, prefek Kongregasi Ajaran Iman, dan Ivan Kardinal Dias, prefek Kongregasi Evangelisasi Bangsa-Bangsa.

Uskup Agung Fernando Filoni, Wakil Ketua Urusan Umum Gereja, yang tahu baik tentang Cina, juga diharapkan hadir, bersama dengan Uskup Agung Dominique Mamberti, sekretaris untuk hubungan dengan negara-negara. Wakil ketua, atau sostituto, adalah pejabat tingkat tiga Vatikan setelah Paus dan sekretaris negara.

Daftar pejabat Vatikan yang diharapkan hadir, antara lain:: Uskup Agung Claudio Maria Celli, ketua Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial; Monsignor Pietro Parolin, wakil sekretaris untuk hubungan dengan negara-negara;dan Monsignor Gianfranco Rota Graziosi dari Sekretariat Negara Vatikan. Ketiganya pernah ikut dalam dialog Cina-Takhta Suci.

Lima anggota komisi asal Cina yang diharapkan hadir adalah: Joseph Kardinal Zen Ze-kiun dari Hong Kong, Uskup Koadjutor John Tong Hon dari Hong Kong, Uskup Jose Lai Hung-seng dari Macau, Uskup Agung John Hung Shan-chuan dari Taipei, dan Uskup Bosco Lin Chi-nan dari Tainan. Tidak ada pejabat Gereja Cina daratan yang menjadi anggota komisi itu.

Para wakil dari sejumlah kongregasi religius dengan kepentingan khusus di Cina, yang adalah anggota komisi itu, juga diharapkan hadir pada pertemuan itu.

Sejak menjadi paus tahun 2005, Paus Benediktus XVI telah memperbaiki hubungan Vatikan dengan Cina yang merupakan satu dari prioritasnya. Ia secara rutin mengikuti perkembangan di sana dan diharapkan berbicara kepada komisi dalam pertemuan ini, karena dia akan menjadi pembicara pertama.

Komisi itu diharapkan mengeluarkan pernyataan pers di akhir setiap diskusi.
2009-3-30 | ZY06950.636b | 622 kata


Read more...

Jalan Salib yang Berat Memberi Penghiburan Rohani bagi Banyak Orang

Oleh George Kommattathil

LAKKIDI, India (UCAN) -- Jalan pegunungan yang terjal dan berkelok-kelok membuat semakin sulit bagi Pipson Erattupuzha karena salib kayu berat di bahunya yang dipikulnya sebagai bagian dari devosi Prapaskah.

Pria Katolik berusia 46 tahun itu mengatakan, kelelahan karena perjalanan malam selama delapan jam dengan bus tidak menciutkan semangatnya untuk terlibat dalam Jalan Salib yang populer di Negara Bagian Kerala di India bagian selatan itu.

Sekitar 1.000 orang dari seluruh wilayah ikut upacara ini, yang diselenggarakan setiap Jumat di masa Prapaskah. Kegiatan yang dimulai oleh seorang imam Karmel 17 tahun lalu ini mengambil jalan pegunungan Wayanad Churam sejauh 16 kilometer. Jalan ini menghubungkan Distrik Wayanad dan Kozhikode.

Umat mulai perjalanan spiritual itu pada jam 8.30 pagi dari Gethsemane Park di Adivaram, Distrik Kozhikode. Mereka berjalan menyusuri hutan lebat, mendaki jalan berkelok-kelok, dan berakhir jam 1:30 siang di Lakkidi, puncak bukit, 2.100 meter di atas permukaan laut di Distrik Wayanad.

Mereka bernyanyi, berdoa, dan berlutut di jalanan yang kasar pada setiap 14 perhentian di sepanjang jalan, yang menggambarkan penderitaan Yesus dalam perjalanan menuju penyaliban-Nya.

Ketika umat mencapai puncak, seorang imam mempersembahkan Misa di Mount Sinai Ashram, pusat yang dikelola Ordo Karmel dari Maria Dikandung Tanpa Noda. Devosi diakhiri dengan makan siang nercha kanji, bubur, yang disiapkan oleh pusat itu.

Pastor Thomas T. Thundathil, yang memulai devosi yang berat itu, mengatakan bahwa devosi itu semakin terkenal dari tahun ke tahun, menarik banyak orang dari seluruh Kerala dan dua negara bagian tetangga yaitu Karnataka dan Tamil Nadu.

Wayanad, dengan stasi-stasi pegunungannya, hutan lebat, dan binatang liar merupakan tujuan eko-turisme, tetapi Jalan salib merupakan sebuah bentuk “turisme spiritual,” lanjutnya..

Pastor Thundathil mengatakan, dia mempromosikan tradisi ini karena “banyak orang memperoleh kekuatan rohani melalui kegiatan silih dan pengorbanan ini."

Pappachen Kannanthara, 52, yang harus mengadakan perjalanan sejauh 50 kilometer untuk bisa mengikuti kegiatan ini, sependapat. "Yesus tak akan pernah menutup telinga terhadap umat yang berpuasa dan mendaki jalan berkelok-kelok dengan kaki telanjang,” katanya.

Pastor Thundathil bercerita bahwa hanya sedikit orang yang bisa meraih puncak bukit pada Jalan salib yang diadakan pertama kali di sini tahun 1992. Kebanyakan hanya meraih setengah jalan, karena patah arang melihat jalan mendaki berkelok-kelok. "Tetapi kini, semua orang bisa mencapai puncak, bahkan mereka yang sudah lanjut usia,” kata imam itu dengan menunjuk pada Rosamma Kariyanatt.

Perempuan berusia 78 tahun itu mengatakan, dia datang dengan satu tim beranggotakan 30 oang dari Ponkunnam di Distrik Kottayam, sekitar 220 kilometer jauhnya, dengan sebuah bus yang diatur oleh parokinya.

Para peziarah datang dengan berbagai intensi. Kariyanatt mengatakan, dia mempersembahkan latihan rohani ini untuk umat Kristen yang dianiaya dan untuk perdamaian di dunia. "Ini merupakan pengalaman tak terkatakan, saya kini merasa diberkati," katanya sambil menatap kakinya yang sakit.

Merina Edayal datang bersama suaminya, yang menderita kanker. "Saya percaya, Tuhanku akan mendengarkan doa-doa kami kali ini," katanya.

Mahasiswa kedokteran, Jaison Thayyil, menganggap Jalan salib yang khusus ini sebagai “latihan rohani saya yang menarik dalam masa Prapaskah."

Salil Pattasseril Gudallur, Tamil Nadu, mengatakan hal senada. Perempuan ini sudah 17 kali mengikuti kegiatan ini dalam empat tahun terakhir dan selalu menemukan pengalaman “yang menarik dan menguatkan iman."

Erattupuzha, yang mengikuti umat lain dalam kegiatan 20 Maret itu ingin “sedikit mengalami penderitaan Yesus, yang memanggul salib ke Kalvari." Dia mengatakan, dia mengalami kedamaian dan ketenangan setelah menjalani upacara itu. “Saya tidak merasa capek. “Saya akan mengikuti lagi minggu depan,” katanya, ketika berlari ke lembah untuk mencegat sebuah bus.
2009-3-30 | IB06947.636b | 553 kata
Read more...

Dokumen-Dokumen Paus akan Tersedia dalam Bahasa Cina

Oleh Gerard O'Connell, Koresponden Khusus di Roma

KOTA VATIKAN (UCAN) -- Vatikan telah mengumumkan bahwa semua teks paus akan tersedia dalam bahasa Cina di website Takhta Suci mulai 19 Maret.

Dari tanggal itu, pemakain Internet di seluruh dunia akan bisa mengakses teks-teks dari Paus Benediktus XVI dalam bahasa Cina tradisional dan bahasa Cina yang telah disederhanakan.

Vatikan mengumumkan perkembangan ini pada 16 Maret, menjelang kunjungan pertama paus ke Afrika selama 17-23 Maret. Ini merupakan perjalanan ke-11 ke luar negeri.

Penting bahwa Vatikan membuat pengumuman ini tidak hanya dalam bahasa Italia dan bahasa Inggris, tetapi juga dalam bahasa Cina.

"Website resmi Takhta Suci akan ditingkatkan dengan penambahan sebuah seksi baru dalam bahasa Cina,” demikian pernyataan Vatikan dalam komunike pers. Dikatakan, pelayanan itu akan dimulai pada pesta Santo Yosef, Pelindung Gereja Universal.

Bahasa Cina merupakan bahasa kedelapan dan bahasa non-Eropa pertama yang digunakan Takhta Suci untuk membuat teks-teks paus dan dokumen-dokumen penting lainnya tersedia online. Tujuh bahasa lain adalah Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Latin, Portugis, dan Spanyol.

Para pemimpin Gereja Cina, dalam sebuah pertemuan Vatikan sebelumnya, mengungkapkan kerinduan bahwa dokumen-dokumen Vatikan diterbitkan dalam bahasa Cina selain bahasa-bahasa Eropa.

Yang pertama dalam tahun ini, pesan Prapaskah paus diterbitkan dalam bahasa Cina pada bulan Februari. Sumber-sumber mengatakan kepada UCA News di Roma bahwa Ensiklik sosial paus yang akan terbit, yang berkenaan dengan krisis ekonomi sekarang ini dan isu-isu sosial lainnya, juga akan diterbitkan dalam bahasa Cina.

Berkat pelayanan baru ini, umat Katolik Cina dan pemakai Internet Cina akan bisa mengakses semua teks ini. Dijamin, mereka tidak akan mengalami hambatan untuk mengaksesnya karena pemerintah tidak bisa memblok situs-situs itu.

Perkembangan baru Gereja ini dapat berarti bahwa Saluran Vatikan di YouTube juga menjadi tersedia dalam bahasa Cina.

Sejak 1998, Takhta Suci telah tampil di Internet dalam bahasa Cina lewat Fides International Agency (www.fides.org), pelayanan berita dari Kongregasi Evangelisasi.

Takhta Suci juga telah memberi informasi dalam bahasa Cina di situs Radio Vatikan (www.radiovaticana.org) sejak 1990, walaupun informasi itu tidak senantiasa tersedia untuk umat Katolik dan lainnya di Cina daratan karena pengaksesannya diblok pemerintah.

Cina memutuskan hubungan diplomatik dengan Takhta Suci tahun 1951, tapi dalam tahun-tahun belakangan ini kedua pihak mengadakan dialog, sehingga hubungan-hubungan mulai menjadi lebih baik. Kedua pihak kini terlibat dalam dialog, dengan maksud ada saling pengertian dan pemecahan berbagai problem umumnya terkait dengan situasi Gereja Katolik di Cina daratan. Takhta Suci berharap bahwa dialog ini bisa membantu kedua pihak untuk menerima solusi dan membuka jalan untuk hubungan diplomatik.

Pengadaan seksi Cina di website Takhta Suci merupakan tanda pentingnya perhatian Takhta Suci terhadap perkembangan hubungan-hubungannya dengan Cina, dan untuk memperbaiki komunikasinya dengan sekitar 15 juta umat Katolik di Cina daratan dan dengan umat Katolik Cina umumnya.

Read more...

Yesuit Pertama Asal Pakistan Ditahbiskan

LAHORE, Pakistan (UCAN) -- Serikat Yesus memperoleh imam pertama asal Pakistan sejak serikat itu hadir kembali di negara itu selama 48 tahun.

Pastor Imran John SJ, 33, ditahbiskan pada 28 Maret di Katedral Hati Kudus di Lahore. Uskup Agung Lahore Mgr Lawrence John Saldanha, yang memimpin upacara itu, membenarkan bahwa imam baru itu adalah “Yesuit Pakistan pertama” yang ditahbiskan. "Kami akan memiliki 20 imam lokal tahun ini,” katanya dalam kotbah.

Pastor Maria Anthony, provinsial Yesuit Sri Lanka, adalah satu dari 40 konselebran. Umat yang hadir sekitar 500 orang termasuk para suster dan pelajar.

Pastor Renato Zeechin, pemimpin komunitas Yesuit setempat, menyebut imam baru itu sebagai anugerah dari Gereja lokal bagi Serikat Yesus. “Dia dapat menjadi teladan yang baik dalam komunitas dengan mendukung kharisma Yesuit, terutama dalam pendidikan, pelajaran agama, dan dialog antaragama,” kata imam yang mengepalai dua sekolah menengah di kota itu yang mendidik sekitar 1.000 pelajar.

Para Yesuit pertama kali tiba di Lahore pada abad ke-16 ketika Akbar (1556-1605) berkuasa. Dia dipandang sebagai yang terbesar dari para emperor Mughal yang memerintah di sub-kontinen itu dari tahun 1526 hingga 1761. Dia mengundang para imam Yesuit dari koloni Portugis di Goa.

Tahun 1597, sebuah bangunan gereja besar berdiri di Lahore, dan tahun 1604, Akbar memberi sebuah pernyataan tertulis kepada para Yesuit yang mengijinkan semua bawahannya memeluk agama Kristen. Namun, kemudian para penguasa Mughal kurang bersahabat dan gereja dihancurkan tahun 1650. Misi Yesuit lenyap dari wilayah yang kini dikenal dengan Pakistan itu hingga tahun 1961, ketika para Yesuit Jerman datang ke Lahore dan membangun Loyola Hall, sebuah rumah pembinaan dan retret dengan sebuah perpustakaan besar.

Walaupun Serikat Yesus merupakan serikat terbesar para imam dan bruder di dunia, Pakistan hanya memiliki tiga imam Yesuit termasuk Pastor John, dengan tiga kandidat dalam pembinaan.

"Mempersiapkan orang muda merupakan sebuah tantangan. Kebanyakan dari mereka akan pergi setelah mengenyam pendidikan tinggi dan pendidikan di luar negeri,” jelas Pastor Zeechin, yang mengatakan bahwa enam kandidat pergi setelah bergabung dengan Serikat Yesus selama sembilan tahun.

Pastor John adalah salah satu anggota kelompok kandidat Yesuit pertama itu yang menjalani pendidikan, dimulai tahun 1995. "Kami ada 15 orang. Kehidupan doa yang kuat dan kekuatan kehendak itulah yang membaharu saya untuk bertahan dalam program pendidikan yang panjang," katanya. Yang lainnya berjumlah 14 orang akhirnya meninggalkan pembinaan.

Imam yang baru ditahbiskan itu ingin memberi kontribusi positif bagi perjuangan Gereja di bidang kerukunan antaragama. "Membangun hubungan secara sosial, bukan dalam bidang agama, itu penting bagi sebuah masyarakat yang sehat, terutama di tengah ekstrimisme yang tengah berkembang," katanya.
2009-4-1 | PA06949.636b | 408 kata

Read more...

Paus Desak Pemimpin G-20 Prioritaskan Etika, Keprihatinan Manusia

Oleh Gerard O'Connell, Koresponden Khusus di Roma


KOTA VATIKAN (UCAN) -- Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa satu-satunya jalan keluar dari krisis ekonomi global adalah melalui upaya bersama, yang didasari sikap etik, dengan menghindari "kepentingan diri yang bersifat nasionalistik" dan memperhatikan "suara-suara dari seluruh negara," bahkan negara termiskin.

Pada malam 31 Maret, Takhta Suci mengeluarkan teks dari surat Paus kepada tuan rumah pertemuan puncak G-20, Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, dan tanggapan Brown. Pertemuan puncak, yang diadakan di London itu, akan berlangsung 2-3 April.

Paus itu bercerita bahwa dalam pertemuan mereka baru-baru ini di Vatikan, Brown menjelaskan bahwa pertemuan puncak itu dimaksud “untuk berkoordinasi, karena adanya situasi darurat, aturan-aturan yang perlu untuk menstabilkan pasar uang dan memberdayakan perusahaan-perusahaan dan keluarga-keluarga dalam situasi periode resesi mendalam ini.”

Gereja Katolik menghargai keyakinan yang di-sharing-kan peserta “bahwa jalan keluar dari krisis global sekarang ini hanya dapat dicapai bersama, dengan menghindari berbagai solusi proteksionisme dan kepentingan diri sendiri yang bersifat nasionalistik,” kata Paus.

Selama kunjungannya pada pertengahan Maret ke Afrika, katanya, ia melihat “realitas kemiskinan dan marjinalisasi yang luar biasa, di mana krisis itu berdampak sangat dramatis.”

Namun, hanya negara-negara maju dan sedang maju yang diundang ke pertemuan puncak itu, sementara sub-Sahara di Afrika akan diwakili oleh satu negara, lanjutnya. Dia mendesak para peserta untuk merenungkan fakta bahwa “mereka yang suaranya kurang kuat dalam kancah politik adalah mereka yang sangat menderita akibat dampak krisis yang mereka sendiri tidak merasa bertanggungjawab.”

Paus mendesak para pemimpin G-20 untuk “melihat mekanisme dan struktur multilateral” dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) “guna mendengar suara-suara dari semua negara.”

G-20 merupakan kelompok informal dari 20 ekonomi terbesar dunia -- 19 negara ditambah Uni Eropa. Anggotanya dari Asia terdiri dari Cina, India, Indonesia, Jepang dan Korea Selatan.

Kelompok itu mencakup dua pertiga penduduk dunia, 90 persen dari produksi kotor, dan 80 persen dari perdagangan dunia.

Paus Benediktus melihat asal mula krisis finansial adalah tidak adanya kepercayaan dalam sistem finansial, "khususnya karena merosotnya tindakan etis yang benar." Mengamati bahwa "iman buta" dalam sistem-sistem buatan manusia dapat mengakibatkan kehancuran diri mereka sendiri, ia mengusulkan "iman dalam pribadi manusia" sebagai prinsip dasar.

“Semua langkah diperlukan untuk mengatasi krisis ini yang harus dicari, terutama memberikan keamanan bagi keluarga-keluarga dan stabilitas bagi para pekerja dan, melalui regulasi dan kontrol yang sesuai, memulihkan etika untuk dunia finansial,” pesannya.

Dengan mengutarakan pandangan yang pasti akan muncul dalam ensiklik sosialnya yang pertama, paus yang teolog itu mengingatkan para pemimpin G-20 bahwa “sebuah unsur penting dari krisis ini adalah defisit di bidang etika dalam struktur ekonomi.” Krisis global ini mengajarkan kita bahwa “etika bukan bersifat ‘eksternal’ bagi ekonomi, tapi ‘internal’ dan bahwa ekonomi tidak bisa berfungsi kalau tidak ada unsur etika di dalamnya.”

Karena negara-negara yang lebih kaya tidak lagi membantu negara-negara yang lebih miskin, ia juga meminta para pemimpin G-20 menyadari bahwa bantuan pembangunan dan pembatalan hutang luar negeri dari negara-negara miskin “bukan merupakan akar penyebab krisis dan, sekalipun tidak ada keadilan fundamental, negara-negara miskin tidak harus menjadi korban.”

Paus menyarankan “suatu upaya penguatan yang baik dan berani dari kerjasama internasional, yang mampu meningkatkan suatu pembangunan yang benar-benar utuh dan manusiawi,” sebagai cara mengatasi krisis saat ini.

Namun ia kembali menekankan pandangannya bahwa “iman positif dalam pribadi manusia, dan yang terpenting iman dalam diri kaum miskin - dari Afrika dan wilayah lain di dunia yang sangat menderita kemiskinan,” bagaimanapun diperlukan untuk mengakhiri berbagai krisis seperti ini.

Bersama “penganut-penganut dari berbagai agama dan budaya,” paus menegaskan bahwa ”penghapusan kemiskinan yang luar biasa pada tahun 2015, yang telah menjadi komitmen para pemimpin dalam Pertemuan Puncak Milenium PBB sendiri, tetap menjadi salah tugas terpenting di masa kita ini.
2009-4-1 ZY06973.636b 581 kata
Read more...

Perempuan Katolik Calonkan Diri sebagai Anggota DPRD

KUPANG, NTT (UCAN) -- Beberapa perempuan Katolik mencalonkan diri dalam pemilihan anggota DPRD pada 9 April, dan Gereja mendukung mereka sehingga akan ada lebih banyak lagi perempuan yang melayani kelompok-kelompok masyarakat lemah dalam dewan yang didominasi laki-laki itu.

"Sebagai guru dan perempuan Katolik, saya merasa terpanggil berbuat sesuatu," kata Aplonia Max Nae, 48. "Hal mendasar yang ingin saya perjuangkan adalah di bidang pendidikan, terutama kesejahteraan para guru."

Bangsa Indonesia akan memilih anggota DPRD tingkat propinsi dan kabupaten serta DPR RI untuk masa jabatan lima tahun ke depan pada 9 April.

Nae mencalonkan diri untuk DPRD Kota Kupang, ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur. Pada pemilu lalu, hanya ada satu wanita, seorang Protestan, yang meraih satu kursi dari 30 kursi DPRD kota itu.

Lima puluh lima kursi DPRD tingkat propinsi hanya terdiri dari enam perempuan, semuanya Protestan. Umat Katolik merupakan mayoritas di Nusa Tenggara Timur, namun di wilayah Kupang, mayoritas penduduknya Protestan.

Nae mengatakan ia mulai tertarik dengan dunia politik lima tahun lalu, ketika ia menyadari daerah itu tidak memiliki legislator perempuan Katolik.

"Saya berusaha membekali diri dengan ilmu pengetahuan, perundang-undangan, juga masuk dan terlibat aktif dalam partai politik," kata guru SMP Giovanni yang dikelola Katolik. "Saya merasa sebagai perempuan Katolik saya mampu dan saya mau memperjuangkan demi kepentingan umum."

Sebagai anggota Partai Kasih Demokrasi Indonesia, yang berbasis Katolik, Nae mengatakan tujuan utamanya adalah untuk memperbaiki kesejahteraan guru dan menghapus gap penggajian antara sekolah-sekolah negeri dan swata. Gaji guru-guru sekolah swasta lebih rendah.

Perempuan Katolik lainnya yang mencalonkan diri sebagai dewan legislatif yang sama, Katherina Deno Skera, 61, mengatakan dukungan Gereja terhadap partisipasi perempuan sangat penting.

"Terima kasih kepada Gereja, yang telah menghimpun kami semua para caleg Katolik. Kami dituntun oleh Gereja dengan pencerahan-pencerahan rohani untuk bersikap dan berprilaku dalam politik," kata wanita itu. "Kami merasa tidak sendirian."

Pensiunan kepala sekolah swasta Katolik itu menambahkan bahwa ia belajar dari pengalaman suaminya, Fransiskus Skera, yang pernah menjadi anggota DPR RI selama 10 tahun.

"Saya banyak belajar berorganisasi," kata anggota dari Partai Republik Nusantara.

Nae dan Skera berada di antara enam caleg perempuan yang bergabung dalam seminar itu pada Maret tentang Perempuan Katolik dan Politik Dalam Pemilu 2009, Peluang dan Tantangan. Komisi Kerasulan Awam/Perempuan Keuskupan Agung Kupang mengadakan acara itu untuk mendorong perempuan Katolik supaya ambil bagian dalam melayani masyarakat dengan visi dan misi seperti “Yesus Kristus yang datang melayani mereka yang miskin, lemah dan tertindas," demikian Pastor Yulius Bere SVD, ketua komisi itu.

"Kami berharap para caleg perempuan Katolik memiliki dan memahami diri sebagai pelayan masyarakat," katanya.

Pastor Florens Maxi Un Bria, kepala Paroki St. Yosef Pekerja Penfui, Kupang, mengatakan kepada peserta seminar bahwa umat Katolik memiliki peran dalam dunia perpolitikan Indonesia.

Dengan mengutip "Gaudium et Spes," Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja dalam Dunia Modern," mantan ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuksupan Agung Kupang itu mengatakan para politisi Katolik "harus menentang ketidakadilan dan penindasan," serta intoleransi. Namun mereka "harus mempunyai intelektualitas, dan integritas diri, kerohanian, kejujuran dan kepedulian sosial," tambahnya.

Perempuan Katolik di propinsi itu juga menyiapkan diri untuk memberikan hak suara pada 9 April. Di Ende, Flores, sebuah pulau yang mayoritas Katolik, lewat radio yang dikelola pemerintah menyiarkan wawancara dengan para caleg DPRD Kabupaten Ende termasuk Alexia Sadipun, seorang Katolik yang dicalonkan dari Partai Buruh.

"Saya ingin semua legislasi di tingkat lokal (perda) untuk melindungi kepentingan perempuan, memberikan mereka kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik dan mendorong pendidikan yang lebih tinggi bagi perempuan," kata wanita itu.

Wanita Katolik lain, Maria Margareta Sigasare dari Partai Golongan Karya (Golkar), mengatakan target utamanya memperjuangkan lembaga keuangan bagi perempuan sehingga perempuan terlibat penuh di dalam membangun ekonomi keluarga mereka. "Ketergantungan perempuan pada pendapatan suami telah membuat perempuan rentan terhadap kekerasan dalam rumah tangga," kata wanita itu.

Hasil survei lapangan akhir Juli oleh Komnas Perempuan menunjukan bahwa intimidasi dan diskriminasi jender terhadap caleg perempuan merupakan hal yang biasa terjadi.
2009-4-1 IS06919.636b 628 kata
Read more...