By Catholic News Service
WASHINGTON (CNS) -- Catholic and other church-owned health systems demonstrate greater quality and efficiency than not-for-profit or investor-owned systems, according to a new analysis by Thomson Reuters.
The analysis released Aug. 9 divided 255 U.S. health systems into four ownership categories and then compared them according to eight performance measures, including mortality rates, complications, patient safety, readmission rates and average length of stay.
"Catholic and other church-owned systems are significantly more likely to provide higher quality performance and efficiency to the communities served than investor-owned systems," said a report prepared by David Foster of Thomson Reuters' Center for Healthcare Improvement in Ann Arbor, Mich.
"Catholic health systems are also significantly more likely to provide higher quality performance to the communities served than secular not-for-profit systems," it added. "Investor-owned systems have significantly lower performance than all other groups."
Sister Carol Keehan, a Daughter of Charity who is president and CEO of the Catholic Health Association, said that in Catholic hospitals, "quality is a primary commitment flowing from mission."
"Everyone from the sponsors, boards, clinicians and support staff takes it very seriously," she told Catholic News Service Aug. 9. "We are pleased to see this independent confirmation of the success of our efforts."
Foster's report said the responsibility for quality of care is delegated to local hospital governing boards in most health systems.
"Our data suggest that the leadership teams (board, executives, and physician and nursing leaders) of health systems owned by churches may be the most active in aligning quality goals and monitoring achievement across the system," he said. "Investor-owned health system boards and/or executive leadership may be adopting a responsibility for quality more slowly."
The report said further study is needed "to definitely determine why these differences exist and what effect they will have on the systems' future health."
The data analyzed in the report was drawn from an earlier study by Thomson Reuters that named the nation's 100 top hospitals, based on a variety of performance benchmarks.
END
Read more...
11 Agustus 2010
Report says quality of Catholic health systems higher than others
10 Agustus 2010
Kaum Muda Mendapat Perhatian Muspas
Kaum Muda Perlu Mendapat Perhatian Gereja
Oleh Frans Obon
ENDE (FLORES POS) -- Reksa pastoral untuk orang muda Katolik (OMK) cukup mendapat perhatian peserta terutama dari kelompok kaum muda dalam sesi diskusi setelah presentasi tim Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Agung Ende pada hari kedua Muspas VI, Rabu (7/7) di aula Paroki Mautapaga.
Direktur Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Puspas Keuskupan Agung Ende Romo Feri Deidhae Pr dalam presentasi hasil survei menyebutkan bahwa keterlibatan kaum muda di dalam kehidupan komunitas umat basis masih belum maksimal.
Hal ini disebabkan salah satunya, paling tidak dari survei yang dilakukan, jumlah orang muda (berusia 15-45 tahun dan belum menikah) di cukup banyak komunitas umat basis sangat kurang, rata-rata 7 persen dan di beberapa paroki hampir nol persen.
“Fenomena ini memproyeksikan masa depan gereja hanya mengandalkan orang tua dan anak-anak. Selain itu masyarakat Keuskupan Agung Ende akan mengalami kekurangan tenaga kerja serta kaum intelektual (brain drain). Data ini diperkuat dengan jumlah usia non produktif yang cukup tinggi sebesar 42,65 persen,” kata tim survei.
Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota dalam sambutan pembukaan Muspas, Selasa (6/7) malam di Paroki Mautapaga juga menyinggung masalah serupa bahwa banyak tenaga-tenaga produktif dari keuskupan ini meninggalkan desa atau tempat kelahiran mereka untuk bekerja di luar Flores. Migrasi tenaga kerja ke luar Flores seperti ini tentu membawa persoalan tersendiri. Bahkan ketika mereka kembali ke Flores.
Marlyn, seorang peserta dari kelompok kaum muda dalam sesi diskusi mengatakan, dia berterima kasih karena tim mengangkat masalah kaum muda. Karena itu dia minta Muspas merencanakan pastoral kaum muda karena “kaum muda adalah masa depan gereja”.
Veronika yang akrab disapa Veny, juga peserta dari kelompok kaum muda mengatakan, telah banyak terjadi krisis iman dan moral di kalangan kaum muda. Dia berharap pada Muspas kali ini peserta mengkritisi situasi dan problem kaum muda dan merencanakan strategi pastoral yang memperkuat komitmen kaum muda dalam kehidupan menggereja.
Menurut dia, pekan mudika yang digelar tiga tahun sekali tidaklah cukup untuk membina kaum muda. Dia minta kaum muda diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan “untuk membina sumber daya kaum muda yakni pembinaan yang sesuai dengan jiwa dan semangat orang muda”.
Yasinta dari OMK Kevikepan Bajawa juga setuju bahwa kegiatan Tri Hari Mudika tidak cukup untuk mengumpulkan dan membina kaum muda, sebab “banyak sekali terjadi perubahan-perubahan situasi saat ini”. Tiga hari kegiatan Mudika itu menyedot banyak biaya dan tenaga. “Memang ada kontribusi bagi masyarakat di tempat kegiatan berupa kegiatan fisik,” namun menurut dia, “pembinaan mental kaum muda perlu dilakukan secara periodik dan terencana”.*
Read more...
Muspas Harus Hasilkan Dokumen Perencanaan Terukur
ENDE -- MUSYAWARAH Pastoral (Muspas) VI sebagai kesempatan evaluasi, menyusun arah dasar dan strategi pastoral Keuskupan Agung Ende lima tahun ke depan hendaknya menghasilkan dokumen perencanaan yang hasilnya dapat terukur.
Ketua Umum Panitia Muspas VI dokter Dominikus M Mere, Selasa (6/7) di aula pertemuan Muspas mengatakan, apa yang ingin dicapai dari pertemuan ini adalah adanya strategi dan program kerja lima tahun yang punya tolok ukur dan indikator yang jelas sehingga nanti pada Muspas VII dapat dievalusi dan terukur pula pencapaiannya. “Sebab Muspas sama dengan rencana jangka panjang menengah (RPJM),” katanya.
Untuk dapat menghasilkan dokumen dan program kerja yang demikian, dia berharap seluruh peserta tetap terfokus pada kerangka acuan (term of reference) yang dibuat panitia. “Kita tidak boleh keluar dari kerangka acuan tersebut”.
Menurut dia, jika pembahasan dalam Muspas keluar dari kerangka acuan yang diberikan, “kita tidak akan menghasilkan dokumen perencanaan yang baik. Akibatnya perencanaan kita tidak terukur dan kita akan terus berada dalam proses. Sebab itu kita butuh indikator yang jelas”.
Read more...
Kehidupan Komunitas Umat Basis Makin Maju
*Banyak Masalah Akan Digeluti dalam Diskusi
Oleh Frans Obon
ENDE (FLORES POS) -- Kehidupan komunitas umat basis di Keuskupan Agung Ende yang tersebar di 56 paroki (Ende 25 paroki dan Bajawa 31 paroki) dengan jumlah komunitas umat basis 4.531 (Ende 1.929 KUB dan Bajawa 2.602 KUB) sudah makin maju.
Hal itu bisa dilihat dari survei yang dilakukan tim Pusat Pastoral (Puspas) yang dilakukan selama setahun dalam rangka Musyawarah Pastoral (Muspas) VI Keuskupan Agung Ende.
Direktur Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Puspas Romo Feri Deidhae Pr bersama tim mempresentasikan hasil penelitian mereka di hadapan hampir 400-an peserta Muspas yang memadati aula Paroki Mautapaga, Rabu (7/7). Herman Tambuk, Romo Feri Dheidae Pr, Romo Aleks Tabe Pr, Romo Yet Koten Pr, Romo Remigius Misa Pr dengan moderator Romo Stef Wolo Itu Pr, mempresentasikan hasil survei mereka.
“Secara umum dapat dikatakan KUB mengalami perkembangan maju. Perkembangan ini mungkin dipengaruhi oleh upaya-upaya pembenahan yang dilakukan selama lima tahun dan pemekaran komunitas umat basis serta peningkatan frekuensi serta jenis kegiatan,” kata tim.
Namun kemajuan ini tidak disertai dengan potensi pengurus KUB yang menurut survei ini “agak buram” karena indeksnya 2,93 ( di bawah titik tengah). “Hal ini dipengaruhi oleh pendidikan pengurus KUB yang mayoritas sekolah dasar (33,1%) dan sekolah lanjutan pertama (18,6%), pengurus belum mengikuti pelatihan (47,98%), kemampuan pengurus yang terbatas dalam menangani masalah di KUB dan pelaksanaan tugas yang dirasa belum sesuai harapan”.
Komunitas basis sebagai komunitas doa telah mengalami kemajuan, tetapi aspek kerygma (pewartaan) secara khusus pendalaman kitab suci belum maksimal. “Kebanyakan KUB mendalami kitab suci hanya pada bulan September”. Menariknya bahwa komunitas basis sebagai komunitas perjuangan sudah mulai tampak dalam pertemuan untuk membahas masalah bersama di KUB, namun “tidak tuntas sampai menemukan solusi”.
Solidaritas yang dibangun dalam KUB juga mulai tampak terutama solidaritas kematian, kebiasan tolong menolong. Ada warna persaudaraan dalam KUB. Partisipasi umat dalam kehidupan komunitas basis juga tinggi seperti partisipasi dalam kegiatan rohani, partisipasi dalam kegiatan sosial (89,51%) dan partisipasi umat dalam pengumpulan dana (88,27%).
Rendahnya kinerja pengurus KUB, dari survei diketahui, disebabkan kurangnya pendampingan. Dari survei KUB diketahui cukup banyak fungsionaris KUB (47,98%) belum pernah mengikuti pelatihan, meskipun banyak umat yang menilai bahwa pengurus KUB yang pernah mengikuti pelatihan semakin baik dalam kinerjanya jika dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya (67,8%).
Selain kemajuan-kemajuan ini, juga masih ditemukan masalah-masalah seperti kemiskinan, kesehatan, lingkungan hidup, migrasi ilegal. “Ciri KUB sebagai komunitas basis perjuangan mesti diwujudkan dalam keterlibatan dan kompetensinya menangani masalah-masalah yang dihadapi anggotanya”.
Banyak kemajuan yang telah dicapai tapi masih banyak pula persoalan baik internal maupun eksternal Gereja Keuskupan Agung Ende yang harus disikapi komunitas basis. Mulai Rabu (7/7) kemarin, peserta Muspas terlibat aktif dalam diskusi-diskusi yang intens untuk menyikapi masalah-masalah pastoral gereja Keuskupan Agung Ende dan menyusun arah dasar dan strategi pastoral lima tahun ke depan.*
Read more...
Tanda-Tanda Kedewasaan Iman Sudah Muncul
Oleh Frans Obon
ENDE -- SOSIOLOG, yang juga dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Pater Robert Mirsel SVD menilai, dari presentasi hasil survei yang dilakukan tim pastoral Keuskupan Agung Ende, sudah ada tanda-tanda yang mencerminkan dan merefleksikan bahwa iman umat makin dewasa.
Usai presentasi hasil survei tim pastoral Keuskupan Agung Ende, Rabu (7/7/2010) di aula Paroki Mautapaga, dia mengatakan, komunitas-komunitas basis di Keuskupan Agung Ende tidak lagi melihat agama sebagai “hal dari luar” melainkan “sudah menjadi bagian integral” dari kehidupan umat.
“Dalam kehidupan sehari-hari kita lihat agama tidak lagi menjadi sesuatu yang sekunder atau tempelan melainkan bagian integral dari kehidupan harian umat, meski dari hasil survei menyebutkan bahwa doa dan urusan administratif di komunitas umat basis mendapat persentase tinggi dibandingkan merefleksikan kitab suci”.
Dia bilang, dari survei kelihatan bahwa agama tidak lagi sekadar ritual namun sudah makin mencerminkan wajah gereja yang cukup dewasa dalam hal iman.
Menurut dia, presentasi data-data survei ini hendaknya menjadi “satu momen penyadaran supaya jangan hanya dimengerti secara intelektual tapi membangkitkan sense of belongings, rasa memiliki bahwa inilah masalah yang kita hadapi dan kita membangun komitmen bersama untuk mengatasinya”.
Masalah-masalah klasik yang kita sering hadapi seperti yang disebutkan dalam survei yakni kemiskinan, masalah kaum muda, dan kawin pintas, misalnya, tidak perlu bertanya siapa yang paling yang bertanggung jawab apakah komunitas basis atau fungsionaris pastoral. “Sebaliknya Muspas ini harus menjadi momen metanoia kolektif dan pribadi untuk melihat berbagai kemajuan dan mengusahakan yang belum maksimal”.
Secara metodologis survei sudah bagus. Menariknya, katanya, dalam Muspas ini fungsionaris pastoral dinilai oleh umat dan fungsionaris pastoral menilai dirinya sendiri (self assessment).*
Read more...
Uskup Agung Membuka Muspas VI
*Kemiskinan Masih Menjadi Masalah
Oleh Frans Obon
ENDE (FLORES POS) -- Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota membuka Musyawarah Pastoral (Muspas) VI Keuskupan Agung Ende dalam sebuah perayaan ekaristi di Paroki Mautapaga, Selasa (6/7/2010) sore.
Hadir dalam perayaan ekaristi pembukaan Muspas VI ini Vikjen Keuskupan Agung Ende Pater Yosef Seran SVD, Provinsial SVD Ende Pater Konrad Kebung Beoang SVD, Vikep Ende Romo Ambros Nanga Pr dan Vikep Bajawa Romo Hengky Sareng Pr, Direktur Puspas Romo Cyrilus Lena Pr.
Dari pemerintah hadir Bupati Ende Don Bosco M Wangge, Sekda Ngada Moses Meda, Ketua DPRD Ngada Kristoforus Loko, Ketua DPRD Nagekeo Gaspar Batu Bata dan ketua DPRD Ende Marsel Petu.
Persiapan Muspas VI berlangsung selama setahun sejak pencanangannya oleh Uskup Sensi pada tanggal 16 Agustus 2009 di Gereja Katedral Ende. Tema perayaan ekaristi “Demikian Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21).
Uskup Agung ini dalam kotbah ekaristi pembukaan mengatakan, Muspas bukanlah hal baru karena “Kita sudah menyelenggarakan Muspas untuk kesekian kalinya”. Namun Uskup Sensi mengatakan, Muspas harus bisa mengakomodasi dan menerima aspirasi dari umat.
Uskup mengajak peserta Muspas untuk menyandarkan diri pada kekuatan Allah untuk membahas dan merancang perencanaan pastoral keuskupan lima tahun ke depan. “Karena Pastoral Gereja adalah karya kasih Allah”. “Kita merefleksikan pastoral kita di masa lalu dan bersama-sama dalam Muspas merefleksikan apa maunya Tuhan”.
Dia minta agar peserta dalam pergumulannya selama Muspas sungguh mendengar Roh Allah sendiri, sebab Roh Allah berembus ke mana dia mau.
Dalam sambutannya Uskup Agung ini tidak menampik berbagai kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam kehidupan komunitas basis seperti adanya partisipasi aktif dari para fungsionaris pastoral dan umat beriman. “Saya bangga dengan kemajuan ini”.
“Sudah banyak komunitas umat basis dan paroki yang makin kuat dan mandiri. Tidak kurang juga umat berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab dalam kehidupan menggereja. Mereka begitu bersemangat. Malah ada DPP awam jauh lebih keras dari para imam”.
Namun Uskup mengingatkan bahwa masih banyak umat Katolik di Keuskupan Agung Ende dililit kemiskinan. Masalah ini merupakan pekerjaan rumah pastoral yang masih perlu dikerjakan.
“Masih banyak rencana aksi yang belum cukup digerakkan untuk membuat perubahan dan kita belum mampu mengentas kemiskinan yang dialami mayoritas umat,” katanya.
Gereja, katanya, sudah melakukan kampanye hidup hemat dan menabung. Bahkan Keuskupan mendirikan credit union Gerbang Kasih. Gereja Katolik, kata Uskup, mengambil bagian dalam prakarsa pangan lokal untuk menghindari umat dari kelaparan. Bahkan para uskup se-Nusa Tenggara mengikarkan pastoral yang peduli petani.
Uskup merasa cemas dengan makin banyaknya generasi muda yang tidak terserap oleh lapangan kerja sehingga harus meninggalkan tempat kelahirannya mencari kerja di luar Flores.
Selain itu, gereja Keuskupan Agung Ende berhadapan dengan masalah hak asasi manusia, politik, dan lingkungan hidup. “Muspas juga akan diisi oleh permenungan tentang masalah-masalah klasik yang dihadapai oleh umat dan kita dipanggil untuk menjawabi situasi tersebut sehingga Gereja menjadi tanda keselamatan bagi semua orang”.
Umat sebagai Subjek
Uskup menegaskan lagi bahwa umat tidak hanya dan tidak lagi menjadi fokus dari karya pastoral Gereja tetapi menjadi subjek pastoral. Hal ini dimungkinkan oleh Roh Tuhan karena Roh Tuhan bertiup ke mana saja dia mau. Karena itu Gereja perlu mendengar suara dari umat sederhana karena suara mereka merupakan percikan Roh Allah, sehingga Muspas harus menjadi ruang bagi Roh Allah untuk berbisik.
“Konkretnya perlu ada keterbukaan dan lapang hati untuk saling mendengarkan. Kita belajar duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi”.
Sedangkan Bupati Ende Don Bosco M Wangge dalam sambutannya mengatakan, pemerintah dan Gereja mengemban tugas yang sama yakni mensejahterakan rakyat, meski berbeda bidang kerja. Dia bilang, Muspas punya makna strategis terutama dalam kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan UU No. 32/2004 mengenai asas desentralisasi, yang berbasiskan akar rumput dengan semangat kemandirian.
Bupati mengajak Gereja Katolik untuk terus membangun kerja sama terutama di bidang pertanian dan secara bersama-sama mendorong gerakan swasembada pangan terutama pangan lokal.
Bupati mengatakan pemerintah menerima berbagai kritikan dan saran berkaitan dengan kebijakan pemerintah kalau hal itu muncul di dalam Muspas.
Bupati berterima kasih atas kontribusi yang diberikan oleh Gereja dalam membangun masyarakat dan dia berharap kerja sama ini terus ditingkatkan ke depan. “Kita tidak dapat menyangkal peran Gereja dalam membangun manusia seutuhnya.
Ketua umum panitia Domi M Mere dalam laporannya mengatakan, persiapan Muspas berlangsung selama setahun. Selama setahun itu pula panitia bekerja.
Para peserta menginap di rumah-rumah umat untuk mempererat kebersamaan dalam keluarga sebagai unit terkecil dari komunitas basis.*
Read more...
4 Juli 2010
Growth in immigrant communities seen fostering love for soccer in US
By Paul Sanchez
Catholic News Service
PORT CHESTER, N.Y. (CNS) -- Before and during the 2010 World Cup games being played in South Africa until July 11, there have been numerous articles and editorials in the American press about what has traditionally been a lack of interest in the World Cup in the United States.
These sentiments were boldly expressed in a May 6 article in The New York Times headlined "Most Popular Soccer Team in the U.S.: Mexico?" It detailed the successes of the Mexican national team and the pride Mexicans in the United States have for that team.
But what seems missing in a lot of the coverage is how the growth of this country's immigrant population may be responsible for a growing U.S. interest in the sport, because immigrants are bringing with them their passion for their national sport.
Not to mention that many of these immigrants also are bringing their Catholic faith to their new home. Many come from predominantly Catholic countries, such as Latin American nations, and account for much of the recent growth of the U.S. Catholic Church.
(And not a few stories in the Catholic press have highlighted the strong Catholic faith of many of the current players.)
Latin America was well represented among the 32 teams that qualified for the 2010 World Cup. And among the eight teams heading into the Cup's quarterfinals were Brazil, Uruguay, Argentina and Paraguay.
One U.S. community noted for its diverse Latin American population is Port Chester in Westchester County. Virtually all Latin American nations seem to be represented there.
One popular locale for the area's massive Brazilian community to watch the games has been Churrascaria Copacabana, a steakhouse with many television screens in the outside bar area.
Anderson Moretti, a native of Sao Paolo, who is the general manager of Copacabana, feels that the World Cup brings the Brazilian community in the United States closer together.
"You can see all the families coming together to watch the matches. It is as big in the Brazilian community here as it is in the U.S. People like to dress up in the colors and team jerseys," he said.
Moretti said that after a Latino country is eliminated, people from that country will root for another Latino country to win it all.
The New York City borough of the Bronx is noted for having communities of almost every immigrant group imaginable, with Latino groups being the most prevalent. However, in the Belmont section of the Bronx, a traditional Italian-American stronghold, both Italian-born people and people of Italian descent had geared up for the World Cup long in advance of the opening game June 11.
Stan Petti, owner of Full Moon Pizzeria, has had a recent poster of the Italian team hanging in his restaurant for months. Petti, a native of Italy's province of Salerno who came to the United States in 1972, has been talking about Italy's chances in the 2010 Cup with his patrons, both Italians and non-Italians, for several months. The restaurant shows many of the games on widescreens.
"The World Cup is a big event in the Italian community because it is a part of our culture. We have followed the World Cup since we were kids," he said. "Besides, if the Italian team does well, it is nice to show off our flag."
Belmont in the past 20 years has seen an influx of Mexican immigrants who live and work in the neighborhood.
Petti said he sees the World Cup as a unifying force for the Italians, Latino groups and Albanians in the neighborhood.
"The World Cup certainly brings people of different backgrounds together, and it does not have to be about the players or different teams but also the referee and the country where the game is played," he said.
Rusty Chorro Serpas, a native of El Salvador who eats lunch regularly at the Full Moon, feels that Salvadorans love soccer so much that they got over the disappointment of their country failing to qualify for the World Cup and were still following the games out of their intense love of soccer.
"I can come in here almost every day to eat lunch, and every day I can talk about the World Cup with people from different countries -- Mexico, Colombia, Italy, Argentina, Brazil, Portugal and so many more," he said. "The World Cup is both a unifier and a way of life. When it is over, I can't wait for another four years to pass!"
END
Read more...