BRISBANE, Australia (UCAN) -- Beberapa tahun lalu saya membaca sebuah berita UCAN tentang dampak penulisan Katolik pada masyarakat Jepang. Berita itu mengutip seorang misionaris yang mengatakan bahwa orang Jepang cenderung untuk lebih menghargai apa yang ditulis para novelis mereka ketimbang apa yang dikatakan secara lisan oleh para imam. Pastor Alfons Deeken SJ mengungkapkan pandangan ini dalam sebuah pertemuan para penulis Katolik.
Sebuah komentar serupa dikutip dalam kolom ini sekitar enam bulan lalu. Kolom ini mengutip seorang misionaris lain yang mengatakan bahwa selain sekitar satu juta umat Katolik di Jepang, negeri itu memiliki 4 juta orang yang “berpikir Katolik.” Tidak heran, gejala orang yang “berpikir Katolik” itu karena dampak para penulis seperti mereka yang dipuji oleh Pastor Deeken.
Shasuko Endo, yang paling terkenal di antara para penulis Katolik Jepang, “menghabiskan seluruh hidupnya untuk bergulat dengan iman," kata jandanya baru-baru ini. Junko Endo menambahkan bahwa mendiang suami meninggalkan tiga tugas baginya: mengatakan kepada masyarakat bahwa kematian bukan akhir kehidupan; membuat Yesus dihormati sepantasnya oleh orang Jepang; dan melanjutkan program suaminya untuk membuat rumah sakit lebih bersabahat dengan para pasien, keluarga, dan sahabat-sahabat mereka. Suatu mandat raksasa yang hanya mungkin mencuat dari komitmen iman penulis itu!
Benar, rangsangan literer berbasis iman dari semua penulis Katolik itu pasti berbeda. Misalnya, Endo mengatakan bahwa dia mulai menulis novelnya "Deep River" setelah "menyelami ketidaksadaran" di India. Hal serupa dikatakan oleh Anne Rice bahwa buku-buku vampire-nya mempersiapkannya untuk buku-bukunya belakangan ini tentang Kristus Tuhan. Penulis perempuan ini mengatakan bahwa vampire merupakan sebuah metafora “dalam dunia atheistik, yang susah karena iman yang hilang, kemungkinan rahmat yang hilang."
Pencarian seorang penulis akan rahmat bisa saja berbeda dengan pencarian orang lain. Ekspresi iman mereka juga mungkin menggunakan alam berbeda. Penyair perempuan Korea, Kim Chi-ha, berbicara tentang dirinya sebagai seorang imam "Minjung" – kaum tertindas. Berbicara tentang tulisan-tulisannya, dalam sebuah serial BBC tentang iman, novelis Amerika-Cina Amy Tan mengatakan, "Setiap cerita mengandung sejumlah elemen keyakinan tentang bagaimana dunia bekerja."
Mendiang Pastor Michael Traber dari Tarekat Swiss Bethlehem, seorang guru jurnalisme yang disegani, menyebut elemen keyakinan itu sebagai “nilai-nilai Injil.” Nilai-nilai seperti itu merupakan pusat kerasulan menulis, apakah itu storytelling (penuturan cerita) kreatif atau storytelling naratif.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam majalah "America" beberapa hari sebelum kecelakaan tragis November lalu, Pastor Andrew M. Greeley menekankan rahmat yang memungkinkan seorang menjadi storyteller (penutur cerita) Katolik. Jelas, imam penulis itu merujuk pada apa yang disebutnya “rahmat yang tersedia dalam komunitas-komunitas dan lingkungan-lingkungan Katolik."
Dalam pujiannya kepada penulis Katolik Amerika Jon Hassler, Pastor Greeley meringkas sebuah pertanyaan kuno tentang apakah sebuah novel Katolik itu mungkin. Jawabannya akan bergantung pada "apakah sebuah cerita itu ditulis oleh seseorang yang imajinasinya sudah meluap dengan belantara metafora Katolik," katanya.
Melihat apa yang disebutnya "dampak pervasif dari sakramentalitas Katolik” pada teologi serta pada fiksi, imam peneliti itu mengatakan imajinasi Katolik melihat dasar yang kuat bagi pengharapan. Dia menyebut dasar itu “hutan tropis pengharapan."
Tempat pengharapan pada penulisan Katolik itu lebih penting di Asia, yang hampir semua kebudayaan telah disusupi oleh fatalisme. Dan jika pelayanan pengharapan mereka itu mau efektif, para storyteller harus menenggelamkan diri dalam metafora iman dan nilai-nilai dari komunitas-komunitas iman mereka.
------
Hector Welgampola, jurnalis asal Sri Lanka, pernah menjadi Executive Editor UCA News dari 1987 hingga pensiun pada Desember 2001.
Kolom UCAN - "Living Church in Asia" oleh Hector Welgampola
2009-3-18 | AS06882.634b | 529 kata
sumber : www.ucanews.com
Read more...
19 Maret 2009
Nilai dan Metafora yang Memungkinkan Storytelling Katolik
18 Maret 2009
Uskup Agung Tekankan Hak untuk Menuntut Wakil-Wakil Rakyat Mundur
PANAJI, India (UCAN) -- Semakin mendekat pemilihan umum wakil-wakil rakyat, seorang uskup agung di India bagian barat meminta umatnya untuk memilih mereka yang memberi hak kepada rakyat untuk menuntut wakil-wakilnya mundur.
Uskup Agung Gos-Daman Mgr Felip Neri Ferrao membuat himbauan ini dalam siaran persnya pada 9 Maret. Dalam kesempatan itu, dia juga meminta masyarakat untuk menggunakan kebebasan mereka dalam pemilihan umum parlementer yang akan diselenggarakan 23 April di Negara Bagian Goa.
Perhatikan para kandidat yang "memberdayakan rakyat dengan hak untuk menuntut wakil-wakil yang dipilihnya mundur karena tidak melakukan tugas dengan baik, korupsi, dan tidak punya integritas pribadi,” kata Uskup Agung Ferrao dalam pesannya kepada rakyat.
Uskup agung mengatakan bahwa memberi suara itu merupakan suatu tanggungjawab dan keistimewaan. Dia juga menasehati rakyat untuk memilih mereka yang akan melindungi dan meningkatkan sekularisme dan demokrasi, menegakkan hak fundamental untuk kehidupan, kebebasan, kesetaraan, dan keadilan; memberantas kemiskinan dan buta huruf; serta menghapus pekerja anak.
Dia mengatakan bahwa pemilihan umum parlementer merupakan saat paling menentukan ketika rakyat diajak untuk menentukan nasib bangsa dalam lima tahun ke depan.
Pastor Francis Caldeira, jurubicara keuskupan agung, mengatakan bahwa uskup agung menekankan hak untuk mendesak para politisi mundur karena “sudah menjadi pengalaman di masa lalu bahwa setelah terpilih, para legislator melupakan rakyat dan mabuk dengan kekuasaan, sehingga mereka tidak lagi peka terhadap kebutuhan-kebutuhan rakyat."
Dia menambahkan, "rakyat cukup lama menerima begitu saja dan tidak berbuat sesuatu untuk mengontrol penyalahgunaan wewenang yang dilakukan para legislator.” Dia menjelaskan bahwa pemberdayaan rakyat dengan hak untuk menuntut para legislator mundur itu bisa mengubah situasi. Mudah-mudahan itu akan mengubah sikap dan membuat para legislator waspada, dan para legislator akan melakukan apa yang semestinya diharapkan dari mereka untuk dilakukan, lanjutnya.
Analis politik Stanley Fernandes menggambarkan himbauan uskup agung itu sebagai sesuatu bersifat “futurisik.” Namun, katanya, rincian lebih lanjut tentang hak untuk menuntut wakil-wakil rakyat mundur itu harus ada, seperti sebelumnya memberi mereka kesempatan dua tahun untuk memperbaiki kinerjanya.
Jesus Ribeiro, seorang Katolik, mengatakan bahwa himbauan uskup agung itu hendaknya menjadi bagian dari manifesto setiap kandidat yang sedang bersaing, dan itu akan membuktikan "ketulusan" mereka.
Goa, tempat asal Uskup Agung Ferrao, telah mengalami pengangkatan sumpah 16 pemerintahan dan penjungkir-balikan pemerintahan yang dilancarkan oleh para politisi.
2009-3-10 | ID06834.633b | 355 kata
Read more...
Awam Katolik Sediakan Makanan Murah bagi Mahasiswa dan Pekerja
HUE, Vietnam (UCAN) -- Para mahasiswa dan pekerja yang miskin dapat menabung dan makan makanan sehat di sebuah restoran yang dimulai awam Katolik di Vietnam.
Ratusan orang berbaris untuk membeli kupon, masing-masing seharga 2.000 dong (US$0.11), yang kemudian ditukarkan dengan makanan di sebuah restoran dekat Katedral Phu Cam di Hue.
Pham Thi Le Na, 23, seorang Buddha, yang selalu makan siang di sini sejak akhir Februari, menghargai makanan yang murah dan sehat itu. Dulu, perempuan itu harus mengeluarkan 10.000 dong untuk membeli makan siang di restoran-restoran lokal lainnya, yang katanya makanannya tidak disajikan secara higienis.
Na, mahasiswi kedokteran tahun keempat dari propinsi Quang Binh, berharap dapat membeli buku dan materi belajar dengan uang yang ia tabung. Delapan ratus ribu dong yang diberikan orang tuanya setiap bulan tidak cukup untuk membayar uang kos dan makan sehingga ia bekerja sebagai tutor, yang memberinya tambahan sebanyak 250.000 dong setiap bulan.
Joseph Nguyen Van Nghia, 66, pemilik restoran itu, menjelaskan bahwa ia membuka restoran itu pada 24 Februari untuk membantu para mahasiswa miskin dan pekerja yang berpendapatan rendah bersamaan dengan meningkatnya harga makanan dan kebutuhan pokok lainnya. Lelaki itu mengatakan para mahasiswa biasanya mendapat tidak lebih dari 300.000 dong setiap bulan sebagai tutor sedangkan beberapa orang yang menjual lotre untuk hidup menghasilkan kurang dari 20.00 dong setiap harinya.
Berpuluh-puluh ribu mahasiswa dari negeri itu belajar di universitas-universitas dan kolese yang berjejer di Hue, bekas ibu kota kerajaan Vietnam.
Nghia, mantan siswa seminari menengah dan sekarang ayah dari empat anak, mengatakan 300 orang menjadi pelanggan restorannya itu, yang menyediakan makan siang berupa nasi, sop sayuran dan daging, dengan pisang atau manisan sebagai pencuci mulut. Sekarang ini, restoran itu hanya buka pada Selasa, Kamis, dan Sabtu.
Awam yang mengelola sebuah tempat penginapan di Ho Chi Minh City itu mengatakan ia berharap bisa menggunakan 13 juta dong setiap bulan dan mengelola restoran itu sebagai pelayanan, bukan untuk mencari uang. Sekitar enam sampai 10 umat Katolik dari paroki katedral menjadi sukarelawan untuk menyajikan makanan dan menjamu mereka yang berkunjung ke restoran itu.
Beberapa mahasiswa mengatakan penyajian makanannya higienis dalam wadah-wadah yang tertutup, sedangkan restoran lainnya menempatkan makanan dalam kantong plastik yang terbuka. Salah satu mahasiswa menambahkan bahwa ia terkena diare setelah memakan makanan di sebuah restoran dekat asramanya.
Tran Hap, 72, tukang becak yang selalu datang ke restoran itu, mengatakan restoran itu membantunya menabung untuk membiayai lima anggota keluarganya. Dulu, lelaki itu makan roti seharga 4.000 dong untuk makan siang, jumlah besar dari 15.000-30.000 dong yang ia peroleh setiap hari.
Di restoran itu, di bawah lukisan Perjamuan Terakhir tertulis pesan: “Kami melayani anda. Bantulah orang-orang miskin jika anda sukses kelak.”
Read more...
17 Maret 2009
Para Pemuka Agama Tekankan Kebebasan Memilih dalam Pemilu
ENDE, NTT (UCAN) -- Para pemuka agama mengatakan bahwa warga negara Indonesia hendaknya memilih sesuai dengan hati nurani mereka dalam pemilihan umum (pemilu) 9 April.
Para pemuka agama Katolik, Hindu, Muslim dan Protestan mengomentari hal ini dalam sebuah pertemuan 11 Februari di Ende, Propinsi Nusa Tenggara Timur, yang diselenggarakan Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Kevikepan Ende di keuskupan agung Ende.
Sekitar 40 tokoh agama menghadiri pertemuan itu, yang mengambil tema, "Orientasi Penyuluh Lintas Agama untuk Pemilu Damai."
Indonesia mengadakan pemilu setiap lima tahun sekali. Sebanyak 44 partai politik sedang berkompetisi untuk memperoleh suara dalam pemilihan anggota legislatif mendatang.
Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero Pastor Paulus Budi Kleden SVD mengatakan Gereja Katolik "tidak mengidentifikasikan dirinya dengan salah satu partai" dan tidak ada paksaan atau ajakan untuk memilih partai atau calon tertentu dalam pemilu yang akan datang. Imam Katolik itu menjelaskan bahwa Gereja tidak setuju jika umat Katolik tidak memberikan hak suaranya karena apatis, namun kalau pertimbangan untuk tidak menggunakan hak pilihnya harus didasarkan dengan alasan yang matang, "kita harus menghormati kebebasan hati nurani mereka."
Senada, Anom Triyadna dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) berpendapat bahwa idealnya setiap warga negara hendaknya menggunakan hak pilih, "namun kalau ada alasan yang mendasar untuk tidak menggunakannya, maka kita patut menghormati kebebasan seseorang yang tidak menggunakan haknya."
Basirun Samlawi, dari Universitas Muhammadiyah di Kupang, menceritakan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui fatwa menyerukan kepada segenap umat Islam supaya memberikan suaranya dalam pemilu. “Seruan MUI ini dianggap perlu untuk memelihara demokrasi,” katanya.
Jika pemilu bertujuan untuk memperbaiki kehidupan bangsa, “maka memberikan hak suara adalah sesuatu yang wajib.” Ia menambahkan, “Kita diwajibkan untuk memilih orang yang kebaikannya lebih banyak daripada orang yang kebaikannya sedikit.”
Pendeta Yohanes Leymani, dari Gereja Masehi Injili Timor (GMIT), mengatakan masyarakat hendaknya dibebaskan dalam memilih calon legislatif (caleg) "yang sesuai dengan hati nurani mereka."
"Kita harus menghormati kebebasan mereka dalam menggunakan hak pilih," tekannya.
Philipus Harni, seorang peserta awam Katolik dalam pertemuan itu, men-sharing-kan bahwa para pemimpin agama hendaknya mendorong umat mereka supaya memilih caleg-caleg yang mampu tanpa melihat latar belakang mereka baik suku maupun agama.
“Tidak ada gunanya orang memilih caleg kalau didasarkan pada basis suku dan agama karena tidak akan menyumbangkan apa-apa bagi perkembangan politik yang sehat,” katanya.
END
2009-2-18 | IT06695.630b | 363 kata
Read more...
Para Misionaris SVD Melihat Perlunya Menghidupkan kembali Spiritualitas
INDORE, India (UCAN) -- Misionaris-misionaris Serikat Sabda Allah (SVD, Societas verbi Divini) melihat sebuah kebutuhan untuk memperkuat kehidupan spiritual mereka setelah menjalani program setahun untuk memperingati kematian pemimpin-pemimpin awal serikat mereka.
Program setahun peringatan seratus tahun kematian Santo Joseph Freinademetz, misionaris perintis SVD ke Cina, dan Santo Arnold Janssen, pendiri SVD, itu mulai 28 Januari tahun lalu.
Program itu ditutup pada 15 Januari tahun ini dengan pertemuan-pertemuan dan doa-doa khusus untuk memperingati 100 tahun itu di pusat-pusat SVD di empat provinsi serikat itu di India.
Pastor Arockia Sebastian Durairaj, provinsial SVD India Tengah, mengatakan bahwa para anggota SVD di provinsinya menjalankan program itu dengan memusatkan perhatian pada spiritualitas dan kehidupan doa.
"Dalam doa, rekoleksi, dan introspeksi khusus sepanjang tahun itu, kami menemukan bahwa kehidupan doa sangat lemah," demikian pengakuan imam yang tinggal di Indore, ibukota komersil Negara Bagian Madhya Pradesh, 810 kilometer selatan New Delhi itu.
Menghidupkan kembali spiritualitas pendiri mereka itu memberi tenaga bagi program-program yang diselenggarakan oleh setiap provinsi secara tersendiri, katanya.
Santo Arnold selalu menekankan "doa yang mendalam," kata Pastor Durairaj. "Kami harus mengikuti jejaknya."
Media baru dan perkembangan teknologi yang telah membantu evangelisasi itu kadang-kadang bisa juga menimbulkan kekacauan, sehingga "kita perlu waspada,” lanjut imam berusia 51 tahun itu.
"Penghormatan terbaik” bagi pendiri mereka, menurutnya, mungkin adalah memperkuat kehidupan spiritual dan kegiatan-kegiatan misi mereka di wilayah yang didominasi agama Hindu itu.
Uskup Indore Mgr Chacko Thottumarickal setuju bahwa teknologi baru turut menyebarkan Sabda Allah. "Namun, terlalu melekat pada teknologi baru bisa membuat kehidupan doa menjadi lemah,” katanya.
Prelatus SVD itu juga mengamati bahwa sementara berusaha menjadi “mandiri dan berhasil,” banyak anggota serikatnya mengesampingkan kehidupan doa yang memperlemah kehidupan spiritual mereka. Maka “ada suatu kebutuhan untuk menghidupkan kembali kehidupan doa,” katanya.
Bruder Herbert Raich, 70, salah satu misionaris asing SVD yang masih berada di India, mengatakan, dia menyesal bahwa orientasi Konsili Vatikan Kedua terhadap misi telah membuat orang mengabaikan doa. "Jika kita menjaga spiritualitas pendiri kita, serikat akan berkembang. Jika tidak, serikat akan menjadi lemah," katanya mengingatkan.
Bruder Emmanuel Bilung, 44, mengatakan bahwa tuntutan untuk meraih keberhasilan dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berkarya merupakan alasan melemahkannya kehidupan doa. Bruder yang mengepalai satu-satunya pers cetak milik SVD di India itu ingin agar para anggota SVD menyempatkan lebih banyak waktu untuk doa pribadi, yang digambarkannya sebagai “kekuatan setiap misionaris.”
Serikat itu mulai karyanya di Indore tahun 1932, dengan 13 anggota. Kini terdapat sekitar 800 anggota di 200 biara di 45 keuskupan dan empat provinsi. Sekitar 170 imam SVD India kini bertugas di luar negeri.
Santo Arnold, yang dilahirkan di Jerman tahun 1837, mendirikan serikat itu tahun 1875. Dia wafat pada 15 Januari 1909. Dia dibeatifikasi bersama Joseph Freinademetz tahun 1975. Keduanya dikanonisasi pada 5 Oktober 2003.
Santo Joseph Freinademetz, yang dilahirkan tahun 1852 di Italia utara dan ditahbiskan imam tahun 1875, bergabung dengan SVD tahun 1878 dan berangkat ke Cina sebagai misionaris pada tahun berikutnya. Dia wafat pada 28 Januari 1908 di sebuah desa di Propinsi Shandong, Cina bagian timur.
END
2009-1-23 | IC06535.626b | 488 kata
Read more...
Calon Legislatif Katolik Diperkenalkan dengan “Etika Politik Katolik”
JAKARTA (UCAN) -- Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi Kerawam KWI) baru-baru ini mengadakan forum untuk memperkenalkan etika politik berdasarkan ajaran sosial Gereja kepada para calon legislatif (caleg) Katolik.
Pastor Franz Magnis-Suseno SJ menjelaskan tujuh prinsip yang menurutnya dikembangkan dari ajaran Yesus. Sekitar 100 orang Katolik, setengah dari mereka adalah caleg-caleg Katolik dari 10 partai politik peserta pemilihan umum (pemilu) pada April nanti, menghadiri forum pada 24 Januari itu di Gedung KWI, Jakarta Pusat.
Imam-cendikiawan itu menjabarkan tujuh prinsip dalam makalah yang terdiri dari delapan halaman tentang "Etika Politik Katolik." Ia menyebutkan: kebaikan hati, keberpihakan pada kehidupan, kesejahteraan umum, subsidiaritas, solidaritas, hak asasi manusia dan penolakan kekerasan.
Pastor Magnis-Suseno menjelaskan bahwa Yesus tidak mengajarkan sesuatu tentang model negara khusus, namun dalam 150 tahun terakhir Gereja Katolik mengembangkan etika politik berdasarkan apa yang diajarkan dan dilakukan Yesus. Etika politik tersebut dapat ditemukan dalam ajaran sosial Gereja, kata dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, yang dikelola oleh Yesuit.
”Prinsip etika politik Katolik adalah inklusif, bukan ekslusif yang dimiliki Katolik saja. Itu universal, yang bernilai dan bermanfaat bagi semua termasuk semua agama,” jelasnya.
Menjelaskan masing-masing prinsip itu, ia mengatakan kebaikan hati adalah tuntutan dasar Yesus. Orang tidak membenarkan politik itu keluar dari kebencian, balas dendam, dan permusuhan. ”Namun Yesus menuntut agar kita tidak memberi ruang kepada kebencian dan rasa balas dendam di hati kita,” katanya.
Keberpihakan kepada kehidupan, lanjutnya, menunjukkan bahwa orang Katolik harus berani menolak aborsi, euthanasia dan pembunuhan janin demi tujuan penelitian.
Imam itu menjelaskan kesejahteraan umum sebagai prinsip yang paling umum dalam ajaran sosial Gereja. ”Politik jangan dijadikan ajang bisnis dan menjadi kesempatan untuk memperkaya diri,” katanya, menasehati.
Subsidiaritas, katanya, berarti lembaga yang lebih tinggi wajib membantu lembaga-lembaga yang lebih rendah apabila mereka tidak dapat sendiri menyelesaikan keperluan-keperluan mereka sendiri.
Solidaritas berarti keberpihakan kepada orang miskin, kata Pastor Magnis-Suseno. "Kita berpolitik berarti semua harus beruntung, sama-sama berkorban, senasib-sepenanggungan."
Para politikus hendaknya membela hak asasi manusia dengan menerjemahkan sikap yang menghormati martabat manusia ke dalam kenyataan kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya, lanjut imam itu.
Dalam penolakan kekerasan, jelasnya, orang Katolik harus menolak penggunaan ancaman, pemerasan, dan paksaan untuk mencapai tujuan politik.
Pembicara lain dalam forum itu adalah Thomas Aquino Legowo, seorang pengamat politik dan koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (FORMAPPI). Ia menjelaskan bahwa caleg Katolik harus bersaing dengan yang lain seperti kolega, partai, musuh, dan pemodal.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan 44 partai politik, beberapa berbasis agama, untuk mengikutkan calon-calonnya dalam pemilu yang dijadwalkan pada 9 April.
Pastor Yohanes Rasul Eddy Purwanto, sekretaris eksekutif Komisi Kerasulan Awam KWI, mengatakan tujuan kegiatan itu untuk membangun kesadaran di kalangan para caleg Katolik agar mereka harus berjuang bukan untuk kepentingan mereka sendiri tapi untuk komunitas masyarakat yang lebih luas. "Kami tidak ingin mengarahkan terlalu gegabah dan mencolok, akhirnya Komisi Kerawam KWI yang dianggap sebagai fasilitator untuk semua pihak akan dicap sebagai partisan. Ternyata komisi ini mendukung orang tertentu. Itu bukan tujuan kami. Kami hanya mengarahkan mereka berdasarkan nilai-nilai Katolik," tegasnya kepada UCA News setelah forum itu.
Antonius Doni, caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), mengungkapkan penghargaannya terhadap kegiatan itu: "Saya menyambut baik apa yang diprakarsa oleh KWI. Ini menunjukkan rasa simpatik Gereja terhadap orang awam Katolik yang terjun ke dunia politik."
Kimmy Dewi Himawan, caleg dari Partai Barisan Nasional mengakui ia adalah orang baru dalam politik namun ia merasa "terdorong dengan tujuh prinsip yang dijelaskan oleh Pastor Magnis-Suseno."
Selain prinsip-prinsip ini imam itu menambahkan bahwa para caleg Katolik tidak hanya memiliki keahlian dan kualitas, tapi juga “harus maju, berani dan percaya diri.”
2009-1-30 | IJ06580.627b | 578 kata
Read more...
Perempuan Protestan, Islam, Katolik Meluncurkan Gerakan Perdamaian
BOGOR, Jawa Barat (UCAN) -- Tiga puluh perempuan Katolik, Islam dan Protestan dari Indonesia dan Malaysia meluncurkan sebuah gerakan untuk perdamaian sebagai hasil lokakarya antariman yang berlangsung baru-baru ini.
Gerakan itu "meminta pemerintah, Gereja dan masyarakat agar memperhitungkan kepentingan perempuan dalam membuat kebijakan, dan mengakomodir keterlibatan perempuan dalam penyelesaian konflik dan membangun rekonsiliasi," kata Pendeta Rosmalia Barus, dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), tanggal 4 Maret.
Pendeta Barus adalah Sekretaris Eksekutif Dewan Perempuan dan Anak PGI, yang melaksanakan lokakarya tanggal 23-26 Februari itu bersama dengan Asian Women Fellowship of Mission 21, sebuah organisasi Kristen yang bernarkas di Basel, Swiss.
Peristiwa itu berlangsung di Cipayung, Bogor, Jawa Barat.
Pendeta Barus mengumumkan peluncuran "Gerakan Perempuan Cinta Damai” itu di akhir lokakarya dengan tema, "Perempuan sebagai Agen Perdamaian."
Diskusi-diskusi sepanjang peristiwa itu memperlihatkan bahwa perempuan dari agama-agama berbeda telah banyak melakukan kegiatan antariman untuk perdamaian, namun upaya-upaya mereka tidak diekspose oleh media.
"Aksi pertama yang akan segera dilaksanakan setelah lolakarya ini adalah memberitahukan kepada masyarakat tentang gerakan ini dan mengajak lebih banyak perempuan untuk bergabung," katanya. Dia menambahkan bahwa peserta memutuskan agar memulai gerakan seperti itu di tingkat lokal dan membangun jaringan.
"Kami akan juga mengajak perempuan Buddha, Hindu dan Kong Hu Chu untuk bergabung. Setiap perempuan yang cinta damai bisa menjadi anggota," lanjutnya.
Dalam sambutan pembuka, ketua PGI Pendeta Andreas Yewangoe memberitahukan mengenai tema Sidang Raya XV PGI yang akan diselenggarakan akhir tahun dengan tema: “Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang.” Dengan tema itu, “Gereja-Gereja di Indonesia telah menentukan posisinya sebagai sesama umat dengan mereka yang beragama lain. Dulu yang hanya ‘strangers’ sekarang adalah ‘neighbors.’”
Ia menceritakan tentang surat terbuka tahun 2007 berjudul "A Common Word," yang dikirim oleh 138 pemimpin Islam kepada pemimpin Gereja di seluruh dunia, yang mengingatkan bahwa umat Islam dan umat Kristen mewarisi secara bersama a common word yaitu Kasih.
Surat itu, katanya, memperoleh reaksi positif dari tokoh-tokoh agama Kristen sedunia. Berbagai prakarsa untuk melakukan dialog lintas-agama, katanya, patut memperoleh perhatian dan apresiasi. Demikian juga dialog lintas-iman, khususnya antara Islam dan Katolik yang baru-baru ini diselenggarakan di Vatikan perlu dilihat sebagai sumbangan berharga bagi kemanusiaan, katanya.
Pendeta Yewangoe menegaskan bahwa di kalangan Gereja-Gereja Protestan, dialog-dialog semacam ini telah lama dilakukan.
Perempuan-perempuan dari latarbelakang agama berbeda menyambut baik gerakan perdamaian yang baru itu.
Peserta termuda Irma Muthoharoh mengatakan bahwa ia menghargai perempuan Kristen yang mengundang dia, seorang Muslim, untuk ikut dalam lokakarya itu. "Ini saat terindah dalam hidup saya," ia berbagi, seraya menambahkan harapannya agar perempuan bisa sungguh bertindak sebagai agen perdamaian di komunitas mereka masing-masing.
Retno Tri dari dari Sekretariat Jaringan Mitra Perempuan Konferensi Waligereja Indonesia mengatakan, ”dari pengalaman di lapangan kami melihat kebutuhan akan adanya gerakan seperti itu."
Endang Larasati Pohan, peserta Islam mengatakan, “Deklarasi gerakan itu menunjukkan bahwa perempuan telah membuat perubahan. Mereka melihat perbedaan agama-agama dan membuat persatuan dari perbedaan-perbedaan itu.” Deklarasi itu membuat perempuan dari agama apa saja bekerja bersama untuk perdamaian.
Gerakan itu akan menyemangati perempuan untuk berkarya dalam bidang sosial dan kemanusiaan, kata Pendeta Marlyn Takaria. "Saat pulang nanti saya akan terus mengupayakan persatuan perempuan Muslim dan Kristen, dan berkarya bagi perdamaian."
Pendeta Lucy Kumala dari Asian Women fellowsip of Mission 21 mengakui karya ke depan tidaklah mudah. Namun, ia mengatakan kepada para perempuan peserta supaya tidak kuatir: "Pulanglah sebagai agen-agen perdamaian. Tuhan akan membantu dan menguatkan kalian!"
Dalam lokakarya itu, wakil-wakil Protestan, Katolik, Islam, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu juga menyampaikan masukan dalam diskusi panel bertema "Agama, Sumber Damai," dari perspektif agama mereka masing-masing.
2009-3-5 | IN06796.632b | 569 kata
Read more...